Jumat, 05 Desember 2014

Manajemen perubahan pada PT. Kereta Api Indonesia

I.                   PENDAHULUAN

A.      Latarbelakang
Perubahan akan terjadi pada berbagai bidang kehidupan, baik individu, kelompok masyarakat, lembaga, organisasi, termasuk perusahaan. Perubahan yang dimaksud meliputi misalnya perubahan dalam perilaku, perubahan dalam sistem nilai, perubahan dalam metode dan cara bekerja, perubahan dalam peralatan yang digunakan, perubahan dalam cara berfikir, dan perubahan dalam hal bersikap. Perubahan juga bisa bermakna melakukan hal-hal dengan cara baru, memasang sistem baru, mengikuti prosedur-prosedur manajemen baru, penggabungan, melakukan reorganisasi, atau terjadinya peristiwa yang sangat mengganggu dan sangat signifikan. Perubahan dalam organisasi sangat penting dilakukan agar perusahaan dapat mempunyai daya saing sehingga perusahaan dapat bertahan dan tetap ada dalam interaksi dengan lingkungan luar.
Salah satu perusahaan yang melakukan perubahan adalah PT Kereta Api Indonesia (PT KAI). Direktur PT KAI mengetahui bahwa organisasi yang tidak dapat mengikuti perubahan dan permintaan pasar pasti akan hancur. Oleh karena itu berbagai inovasi digagas oleh direktur PT KAI demi memberikan pelayanan yang terbaik. Sebenarnya perubahan dan inovasi oleh PT KAI ini merupakan bagian dari self renewing system yakni sebuah sistem yang mempunyai mekanisme memperbarui dirinya sendiri sesuai perkembangan lingkungan internal dan eksternalnya.

B.       Rumusan masalah
1.    Bagaimana perubahan-perubahan yang dilakukan PT KAI ?
2.    Bagaimana dampak yang terjadi dengan adanya perubahan dari PT KAI ?

C.      Profil perusahaan
          PT Kereta Api Indonesia (Persero) adalah Badan Usaha Milik Negara Indonesia yang menyelenggarakan jasa angkutan kereta api. Layanan PT Kereta Api Indonesia (Persero) meliputi angkutan penumpang dan barang (Wikipedia, 2014). Adapun visi serta misi perusahaan adalah sebagai berikut:
·           Visi   : “Menjadi penyedia jasa perkeretaapian terbaik yang fokus pada pelayanan pelanggan dan memenuhi harapan stakeholders
·           Misi   : “Menyelenggarakan bisnis perkeretaapian dan bisnis usaha penunjangnya melalui praktik bisnis dan model organisasi terbaik untuk memberikan nilai tambah yang tinggi bagi stakeholders dan kelestarian lingkungan berdasarkan empat pilar utama yaitu : Keselamatan, Ketepatan waktu, Pelayanan dan Kenyamanan”.

D.      Sejarah singkat perusahaan
       Seusai Proklamasi Kemerdekaan Indonesia dikumandangkan pada 17 Agustus 1945, karyawan perusahaan kereta api yang tergabung dalam Angkatan Moeda Kereta Api (AMKA) mengambil alih kekuasaan perkeretaapian dari Jepang. Pada tanggal 28 September 1945, kekuasaan perkeretaapian berada di bawah tangan bangsa Indonesia yang ditegaskan oleh pembacaan pernyataan sikap oleh Ismangil dan sejumlah anggota AMKA, sehingga sudah tidak ada campur tangan oleh Jepang. Maka pada tanggal 28 September 1945, ditetapkan sebagai Hari Kereta Api serta dibentuknya Djawatan Kereta Api Repoeblik Indonesia (DKARI). Nama DKARI kemudian diubah menjadi Perusahaan Negara Kereta Api (PNKA). Nama itu diubah lagi menjadi Perusahaan Jawatan Kereta Api (PJKA) pada tanggal 15 September 1971. Pada tanggal 2 Januari 1991, nama PJKA secara resmi diubah menjadi Perusahaan Umum Kereta Api (Perumka) dan semenjak tanggal 1 Juni 1999 diubah menjadi PT Kereta Api Indonesia (Persero) sampai sekarang.









II.                PEMBAHASAN

A.      Konsep Perubahan
1.      Perubahan Organisasi
   Perubahan adalah sesuatu yang biasa terjadi dalam sebuah organisasi. Menurut Kurt Lewin dalam Coram dan Bernard (2001) perubahan organisasi merupakan suatu proses yang sistematis yakni perubahan dari sebuah topik yang hanya menarik untuk beberapa akademisi dan praktisi menjadi suatu topik yang menarik untuk para eksekutive perusahaan untuk kelangsungan hidup organisasi.
Perubahan dalam organisasi dibedakan ke dalam dua jenis, antara lain :
a.         Perubahan operasional, yaitu perubahan yang bersifat parsial dan umumnya tidak menimbulkan dampak yang besar bagi unit-unit lain. Misalnya perubahan kemasan produk dan seragam karyawan.
b.         Perubahan strategis, yaitu perubahan yang menimbulkan dampak luas dan memerlukan unit-unit terkait, atau bahkan seluruh komponen perusahaan. Jika satu komponen diubah maka komponen yang lain akan ikut berubah. Macam-macam perubahan strategis antara lain :
·      Perubahan budaya dan nilai-nilai dasar perubahan.
·      Perubahan arah/fokus bisnis.
·      Perubahan cara kerja untuk meningkatkan efisiensi, peningkatan penghasilan (revenue) atau pemakaian sumber daya-sumber daya.
Bagi daft (2004), perubahan strategis adalah sebuah perubahan yang cenderung radikal, dan perubahan operasional di nilai tak ubahnya sebagai perubahan incremental.
a.         Perubahan incremental adalah perubahan yang secara kontinyu dilakukan suatu organisasi untuk memelihara keseimbangan umum organisasi. Biasanya perubahan seperti ini dilakukan terbatas pada salah satu bagian organisasi dan dampaknya relatif hanya di rasakan oleh bagian itu sendiri. Misalnya, perbaikan mesin-mesin (introduksi mesin-mesin baru yang lebih efisien, lebih fleksibel).
b.         Perubahan radikal cenderung mengubah referensi, arah, dan kebijakan organisasi. Biasanya perubahan ini mentransformasi seluruh bagian institusi. Misalnya, perubahan struktur organisasi dari vertical-fungsional menjadi matrix, horizontal-teamwork.

2.      Kekuatan yang Mendorong Perubahan
Kekuatan-kekuatan lingkungan dimana organisasi mereka beroperasi secara konstan berubah dan mereka harus beradaptasi dengan perubahan-perubahan itu agar tetap survive. Perubahan-perubahan yang terjadi pada organisasi ditimbulkan oleh aneka macam kekuatan eksternal dan internal, yang sering kali berinteraksi hingga mereka saling memperkuat satu sama lainnya.
Menurut Kinicki dan Kreitner (2003) perubahan dapat dipicu oleh faktor-faktor :
a.         Faktor eksternal, pemicunya :
·      Karakteristik demografi, yang terdiri dari usia, pendidikan, gender, dan migrasi.
·      Peningkatan teknologi, berupa otomatisasi industry dan perkantoran.
·      Perubahan pasar, terdiri atas merger dan akuisisi.
·      Tekanan sosial dan politik, seperti terjadinya perang, krisis nilai dan krisis kepemimpinan.
b.         Faktor internal, pemicunya :
·      Masalah sumber daya manusia, berupa peningkatan kebutuhan, ketidakpuasan kerja, produktivitas, dan lain-lain.

B.       Perubahan yang Terjadi Pada PT. KAI
   1.      Perubahan Logo PT. KAI
       Perubahan logo pada PT KAI diinstruksikan oleh Ignasius Jonan selaku Direktur Utama PT KAI yang baru untuk mengawali langkah PT KAI ke dalam tingkat yang lebih tinggi lagi. Beliau bertanggungjawab atas kinerja PT KAI dan ingin menyebarkan semangat baru kepada semua insan PT KAI. Selama ini beliau melihat PT KAI cenderung bergerak lambat dan stagnan karena masih dibantu oleh dana negara, sehingga sulit untuk berkembang. Beliau merasa sudah saatnya PT KAI bergerak mandiri. Oleh karena itu, semangat “Bangun dan Lari!” segera disuarakan oleh beliau untuk menyadarkan semua insan PT KAI bahwa sudah sepantasnya PT KAI sebagai perusahaan jasa kereta api terbesar bergerak cepat dan mandiri tanpa bantuan pemerintah. Penyuaraan semangat baru ini ditandai dengan perubahan logo yang diresmikan pada tanggal 28 September 2011, tepat pada hari ulng tahun PT KAI yang ke 66.
       Selain itu, perubahan ini juga dilatarbelakangi oleh rencana pemerintah yang akan mendatangkan perusahaan swasta untuk masuk dalam industri perkeretaapian Indonesia, sehingga persaingan dalam memberi pelayanan terbaik akan terwujud dan monopoli perusahaan yang terjadi akan berakhir. Oleh karena itu, perubahan logo ini menjadi salah satu realisasi dari semangat “Bangun dan Lari!” yaitu sebuah langkah cepat yang diambil oleh PT KAI untuk mewaspadai adanya persaingan yang ketat dari perusahaan swasta lain dengan cara memperlihatkan citra yang lebih baik kepada masyarakat dengan lebih awal sebelum perusahaan swasta datang. Tujuan Perubahan Logo PT KAI Tujuan umum dari perubahan logo itu sendiri adalah PT KAI ingin menunjukkan kepada masyarakat luas bahwa PT KAI sudah berubah. PT KAI melakukan perubahan dalam bentuk restrukturisasi dan reformasi, sehingga berpengaruh dalam perubahan nilai, mindset serta budaya kerja dalam PT KAI itu sendiri.
Perubahan logo yang terjadi pada PT. KAI yaitu :
a.       Logo DKA, PNKA, dan PJKA (Tahun 1953 - Tahun1988)


logo pt kereta api
Logo DKA, PNKA, dan PJKA (Tahun 1953 - Tahun1988) 


b.      Logo segilima warna biru PJKA (Tahun 1988- Tahun 1990)
gambar logo pt kereta api
      Logo segilima warna biru PJKA (Tahun 1988- Tahun 1990) 
c.       Logo Perumka dan PT Kereta Api (26 April 1991 - 28 September 2011)
gambar logo perusahaan kereta api indonesia
Logo Perumka dan PT Kereta Api (26 April 1991 - 28 September 2011) 
d.      Logo PT Kereta Api Indonesia (28 September 2011-sekarang)
logo pt KAI
     Logo PT Kereta Api Indonesia (28 September 2011-sekarang)


Berdasarkan konsep yang telah dipaparkan diatas, perubahan logo yang dilakukan oleh PT KAI termasuk ke dalam perubahan operasional karena tidak menimbulkan dampak yang besar bagi unit-unit yng lain.

    2.      Perubahan Teknologi
       Setelah adanya sistem pemesanan tiket secara online, selanjutnya perubahan teknologi yang dilakukan oleh PT. KAI diantaranya adalah memberlakukan sistem ‘Self Check In’ atau cetak tiket secara mandiri. Hanya dengan memasukkan nomer booking  dan nomor identitas atau KTP, kemudian stasiun keberangkatannya, penumpang yang telah membeli tiket secara online atau melalui minimarket, bisa langsung mencetak tiketnya sendiri lewat printer atau mesin pencetak yang ada tanpa perlu antri di loket. Layanan self check in ini memudahkan pengguna KA dalam mendapatkan tiket. Penumpang yang sudah memesan tiket di cannel eksternal atau agen resmi dan sudah mendapatkan kode booking tidak perlu lagi antri di loket stasiun, bisa mencetak sendiri di sistem self check tersebut. Saat ini sistem ini baru tersedia di beberapa Stasiun besar di Indonesia.
       Perubahan sistem yang dilakukan oleh PT KAI ini merupakan perubahan strategis, dimana terdapat perubahan cara kerja untuk meningkatkan efisiensi, peningkatan penghasilan (revenue) dan pemakaian sumber daya teknologi untuk menerapkan sistem baru tersebut.



    3.      Perubahan Layanan
       Pada tahun 2009, PT KAI melakukan restrukturisasi terhadap 4 layanan  yaitu pelayanan, keamanan, kenyamanan, dan ketepatan waktu. Perubahan yang dilakukan olek PT KAI ini merupakan perubahan strategis yang cenderung radikal karena melakukan perubahan arah/focus bisnis.

C.      Faktor Pemicu Perubahan
                 Pergantian Direksi pada tahun 2009 membuat perusahaan menjadi semakin giat dalam melakukan banyak perubahan dan perbaikan dalam berbagai aspek bisnis perusahaan, mulai dari perubahan struktur organisasi yang semula konvensional menjadi lebih modern, revitalisasi asset-asset perusahaan, pembenahan prosedur perusahaan, pengelolaan SDM perusahaan secara menyeluruh, dan lain-lain. Sebelumnya, kereta api dan stasiun di Indonesia identik dengan kekumuhan dan kesemrawutan, banyak keluhan dari masyarakat akan buruknya pelayanan PT KAI (DetikNews, 2011). Ditambah pula dengan adanya tekanan publik terkait dengan keamanan dan kenyamanan serta keselamatan transportasi kereta api. Namun, PT KAI belum juga menanggapi keluhan dari masyarakat untuk memperbaiki pelayanannya. Beberapa hal inilah yang menyebabkan PT KAI harus membuat perubahan – perubahan yang mampu membuat sistem operasional menjadi lebih baik.
                 Faktor pemicu perubahan yang dilakukan PT KAI merupakan faktor eksternal yang dikarenakan adanya tekanan sosial dari lingkungan.

D.      Hambatan dalam Proses Perubahan
          Dalam melakukan perubahan teknologi yang dilakukan PT KAI untuk penjualan tiketnya yaitu menggunakan sistem ‘Self Check In’ atau cetak tiket secara mandiri, ada beberapa hambatan yang dihadapi oleh perubahan ini, diantaranya adalah :
1.      Sistem ‘Self Check In’ atau cetak tiket secara mandiri belum menyeluruh di semua stasiun di seluruh Indonesia, hanya ada di beberapa stasiun besar saja.
2.      Sistem ‘Self Check In’ belum tersosialisasikan di semua kalangan masyarakat.
3.      Banyak pengguna kereta api yang masih bingung menggunakan sistem ini, dikarenakan memang karena sistem ini masih tergolong baru dan butuh pembelajaran untuk semua masyarakat yang akan menggunakannya.
    Itulah beberapa hal yang membuat perubahan untuk menggunakan sistem ‘Self Check In’ atau cetak tiket secara mandiri ini belum dilakukan secara menyeluruh.

E.       Dampak Perubahan
Dampak yang terjadi setelah adanya perubahan pada sistem penjualan tiket PT KAI yaitu menggunakan sistem ‘Self Check In’ adalah penumpang kereta api yang sudah memesan tiket di cannel eksternal atau agen resmi dan sudah mendapatkan kode booking tidak perlu lagi antri di loket stasiun, karena bisa mencetak sendiri di sistem self check tersebut. Hal ini membuat penumpang KA tidak perlu membuang banyak waktunya untuk antri di loket stasiun. Bagi PT KAI, adanya sistem ini mempermudah pekerjaan petugas karena semua telah dilakukan secara komputerisasi. 

   
III.             SIMPULAN

            Perubahan-perubahan yang dilakukan oleh PT Kereta Api Indonesia diantaranya adalah perubahan logo yang merupakan perubahan operasional yang tidak mempunyai dampak yang terlalu besar bagi unit-unit kerja yang lain, selain itu adanya perubahan teknologi yang digunakan yaitu menggunakan sistem baru ‘Self Check In’ atau cetak tiket secara mandiri yang tergolong perubahan strategis karena menggunakan cara kerja yang baru dengan menggunakan sumber daya teknologi. Selain itu, adanya restrukturisasi pada empat layanan yag dilakukan oleh PT KAI merupakan perubahan strategis yang berarah pada pengubahan fokus bisnis perusahaan.

            Penerapan berbagai perubahan ini memiliki hambatan yang berasal dari eksternal yaitu adanya tekanan sosial berasal dari lingkungan masyarakat yang membuat PT KAI harus beradaptasi dengan tuntutan tersebut dan melakukan perubahan-perubahan tersebut agar PT KAI menjadi semakin baik.



Baca juga drama terbaru korea milik saya

Manajemen Perubahan pada PT Nutrifood

Penerapan inovasi produk pada PT. Nutrifood pada produk susu berprotein L-Men



Disusun oleh:
PRAYUDHA SETYA UTAMA (122210039)
KELAS: R1

PROGRAM STUDI MANAJEMEN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PURWOREJO
2014

PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Dewasa ini, pola hidup sehat telah menginspirasi para pria Indonesia untuk mendapatkan tubuh yang atletis, ideal, dan tentunya dengan massa otot yang optimal. Dalam mendukung pencapaian tujuan tersebut, banyak faktor yang perlu diperhatikan seperti olahraga yang teratur, istirahat yang cukup, serta pemenuhan zat gizi yang tepat yang berperan penting dalam meningkatkan pembentukan massa otot.
Protein adalah salah satu hal yang dibutuhkan tubuh agar hidup selalu sehat. Protein sendiri mempunyai banyak fungsi di tubuh kita. Pada dasarnya protein menunjang keberadaan setiap sel tubuh, proses kekebalan tubuh. Setiap orang dewasa harus sedikitnya  mengkonsumsi 1 gram protein pro kg berat tubuhnya. Kekurangan protein dapat berakibat fatal, seperti kerontokan rambut (rambut terdiri dari 9-100% dari protein), penyakit kekurangan protein (kwashiorkor), kekurangan yang terus menerus berakibat kematian (zakariaib.multiply.com).
Protein merupakan zat gizi utama yang berperan penting untuk proses pembentukan otot tubuh secara optimal. Konsumsi protein yang disarankan yakni pada saat sebelum dan sesudah latihan beban, yang terbukti meningkatkan massa otot seseorang. Konsumsi protein sebelum latihan ini berfungsi menyediakan asam amino untuk pembentukan otot, sedangkan setelah latihan membantu menjaga ketersediaan asam amino dalam proses pemuliham serta pembentukan otot yang baru. Oleh karena itu, pemenuhan kebutuhan protein sebelum dan sesudah latihan harus selalu diperhatikan. Salah satu produk yang dapat bermanfaat untuk memenuhi kebutuhan protein manusia setiap harinya yaitu produk susu berprotein tinggi.



Gaya hidup masyarakat modern seperti inilah yang dimanfaatkan oleh perusahaan produk kesehatan untuk menciptakan produk kesehatan yang dapat dikonsumsi oleh masyarakat secara mudah. Sebuah perusahaan atau pengusaha tidak dapat hanya memproduksi produk massal di dunia ini. Karena sekarang masyarakat semakin kompleks, dan juga kebutuhan mereka mengacu kepada harga diri. Bisa  dijelaskan sebagai berikut, konsumen dapat berpikir walaupun susu penting untuk kesehatan, tetapi minum susu bayi tidak menyelesaikan masalah kesehatan mereka, bahkan kesannya malah bikin malu karena minum minuman anak-anak.
Jadi supaya dapat memenuhi kebutuhan konsumen di era gaya hidup moderen ini, penting untuk membuat inovasi produk (perubahan produk) berdasarkan target pasar dan segmentasi. Jika Anda hanya memproduksi dan menjual produk yang umum, mungkin Anda tidak dapat meraih konsumen yang lebih banyak yang seharusnya membutuhkan produk itu secara tidak langsung tetapi tidak cocok karena gaya hidup, usia dan faktor lainnya.
Dari fakta inilah PT.Nutrifoods menciptakan produk susu cair berprotein tinggi khusus pria dengan kemasan yang mudah untuk dibawa dimanapun, dengan  tetap menjaga kualitas dari produk itu sendiri yang diberi nama  “L-Men Ready to Go” yang merupakan produk susu cair berkemasan  tetra pack yang memposisikan diri sebagai salah satu alternatif sumber protein praktis siap minum yang berfungsi untuk memenuhi kebutuhan protein pria sebelum dan sesudah latihan olah raga. Produk baru ini merupakan  bentuk  inovasi dari produk susu L-Men sebelumnya yang masih diproduksi berupa susu bubuk dengan kemasan yang cukup besar dan kurang praktis. Dengan kandungan protein tinggi sebesar 15 g/saji, L-Men Ready to Go membantu menjaga ketersediaan asam amino dan protein yang penting dalam proses pembentukan otot. Produk L-Men Hi-Protein 2GO juga diformulasi tanpa penambahan gula dan diperkaya dengan L-Carnitine yang membantu proses pembakaran lemak tubuh selama berolahraga (http://www.nutrifood.co.id).


B.     Proses Perubahan

PT. Nutrifood Indonesia atau lebih dikenal dengan Nutrifood adalah sebuah perseroan yang mana merupakan perusahaan swasta nasional yang bergerak di industri makanan dan minuman khususnya makanan dan minuman yang memberikan manfaat untuk kesegaran, kesehatan, dan penampilan yang berkualitas internasional. Perusahaan yang bergerak di bidang asupan nutrisi di Indonesia ini merupakan produsen beragam produk makanan dan minuman kesehatan yang bermutu dan berkelas dunia. Innovation atau menciptakan ide-ide baru adalah kunci memenangkan persaingan di masa mendatang bagi PT. Nutrifood, bisa berupa terobosan (breakthrough) atau perbaikan terus menerus (continuous improvement) lingkungan yang kondusif bagi tim untuk bekerjasama  mencapai visi. Dengan terus berinovasi, diharapkan perusahaan dapat bersaing di dunia bisnis. Beberapa kegiatan yang harus dilakukan PT. Nutrifood yaitu berinovasi terhadap produknya seperti produk susu suplemen pria L-Men. Susu ini merupakan salah satu dari produk nutrifood yang diformulasikan untuk membantu pria dalam membentuk otot dan tubuh yang atletis,serta membantu memberikan asupan energi dan protein yang tinggi. Karna inovasi itu sendiri merupakan bagian dari budaya oganisasi yang dimiliki PT.Nutrifood.
Terdapat proses perubahan yang dilakukan PT. Nutrifood terhadap produk susu L-Men dari tahun ke tahun baik dari segi cita rasa, kandungan nutrisi, kemasan maupun bentuk dari produk L-Men itu sendiri. Susu L-Men yang tadinya hanya berupa susu bubuk sekarang diproduksi dalam bentuk susu cair dengan nama “L-Men ready to go” dengan kemasan yang kecil dan harga yang  lebih terjangkau. Sehingga memberi kemudahan bagi konsumen untuk mengkonsumsinya.


C.     Resiko
 Didalam melakukan sebuah inovasi adakalanya resiko akan selalu ditemui oleh sebuah perusahaan. Ada beberapa resiko yang kemungkinan bisa dihadapi oleh PT.Nutrifood terhadap inovasi produk susu bubuk L-Men menjadi susu cair L-Men itu sendiri antara lain: Financial Risk, Social Risk.

1.      Financial risk
Perusahaan akan mengeluarkan banyak biaya untuk membuat kemasan bagi produk susu cairnya dikarenakan susu cair mempunyai daya tahan yang lebih rendah atau mudah rusak secara kualitasnya dibandingkan susu bubuk, karna itu perusahaan harus menciptakan kemasan yang berkualitas yaitu kemasan tetra pak.Tetra Pak adalah pelopor teknologi Ultra High Temperature (UHT) untuk pemrosesan dan pengemasan makanan dan minuman di Indonesia.
Selain itu perusahaan juga harus mengeluarkan biaya lebih untuk melakukan proses produksi susu cairnya agar tercipta susu cair yang berkualitas yaitu menggunakan sistem pemanasan UHT, sistem ini adalah teknologi yang terbaik dan paling efektif dalam menjaga tingkat higienis sehingga produk makanan dan minuman bebas dari bakteri tanpa merubah mutu dan kandungan zat gizi yang ada di dalamnya. Proses ini memungkinkan produk tersebut disimpan dalam waktu yang lama tanpa memerlukan proses pendinginan atau bahan pengawet. Sedangkan kemasan aseptik dengan 6 lapisannya mampu menjaga kesterilan produk selama dalam kemasan, serta melindungi produk dari efek buruk seperti cahaya dan oksigen.
Nutrifood bekerjasama dengan Tetra Pak, menghadirkan L-Men Hi-Protein 2 GO yang  mudah dikonsumsi dan dapat diperoleh di mana saja. Tetra Pak sangat mendukung visi produsen L-Men dalam mengembangkan indusri susu cair dan minuman lainnya, untuk memenuhi kecukupan nutrisi bagi seluruh konsumen di Indonesia.
Akan banyak biaya yang dikeluarkan PT.Nutrifood untuk melakukan inovasi produk susu bubuk L-Men menjadi susu cair L-Men Hi-Protein 2GO.



2.      Social Risk
Selain financial risk PT. Nutrifood juga dapat mengalami social risk didalam memperkenalkan produk susu cair L-men di pasaran, karena penerimaan dari orang lain merupakan hal yang sangat penting untuk mengembangkan sebuah usaha.
Apabila produk yang diciptakan dapat diterima orang lain maka akan menciptakan profit bagi perusahaan, dan apabila produk yang diciptakan tidak dapat diterima oleh orang lain maka produk yang diciptakan tidak akan dapat terjual secara maksimal dan mengakibatkan kerugian bagi perusahaan nutrifood itu sendiri.
Produk susu L-Men cair harus mampu memberikan kualitas yang jauh lebih baik dalam segi rasa maupun nutrisi yang terkandung didalam produknya, sehingga konsumen dapat percaya bahwa mengkonsumsi susu cair mempunyai manfaat lebih dibandingkan produk susu bubuk yang diproduksi sebelumnya.

3.      Time Risk
Didalam melakukan sebuah inovasi produk, PT. Nutrifood akan membutuhkan waktu yang lama untuk melakukan inovasi produk susu L-Men cairnya.
Perusahaan akan melakukan riset untuk menciptakan susu cair yang berkualitas  dan tidak mudah rusak. Selain itu perusahaan juga akan butuh waktu untuk memilih kemasan yang  berkualitas baik untuk mengemas produk susu cair L-Men.



D.    Hambatan

1.      Harga
Dalam segi harga produk susu L-Men relatif mahal dikarenakan segmentasi pasar yang dilakukan oleh PT.Nutrifood yaitu kalangan menengah keatas dengan menciptakan produk premium.
2.      Budaya
Tidak semua masyarakat indonesia mempunyai gaya hidup sehat dan mereka juga tidak selalu menyukai produk susu. Faktor budaya ini juga dapat mempengaruhi dari proses penjualan produk susu Lmen itu sendiri, yang harus dilakukan Perusahaan yaitu merubah persepsi masyarakat terhadap produk susu dimulai dari usia dini. Dengan sering melakukan program CSR dan sosialisasi mengenai manfaat susu bagi tubuh.
3.      Pesaing
Perusahaan Nutrifood harus senantiasa melakukan inovasi dalam produk L-Men agar selalu dapat menjadi Market Leader didalam  mempertahankan dan memberi kepuasan pelangganya, sehingga poduk susu berprotein tinggi L-Men tidak kalah saing dengan para pesaing susu berprotein tinggi lainya.


Apakah alih kontrak ke luar negeri menimbulkan dilema etis? Mengapa atau mengapa tidak?

      Apakah alih kontrak ke luar negeri  menimbulkan dilemma etis? Mengapa atau mengapatidak?
                   Alih kontrak ke luar negeri merupakan strategi perusahaan saat ini  untuk menu    runkan biaya mereka dengan mencari sumber-sumber tenaga kerja  yang lebih murah . Keinginan untuk tenaga kerja murah didorong oleh motif keuntungan . Dengan biaya menurun , perusahaan berharap dapat meningkatkan keuntungan . Salah satunya adalah untuk ekspor/memindahkan  pekerjaan ke negara-negara di mana  tingkat gaji  yang lebih rendah
                   Alih kontrak ke luar negeri menimbulkan dilema etis karena,  merampas pekerjaan  dari orang-orang  dinegara dengan tingkat upah tinggi dimana perusahaan itu berdiri yang seharusnya mereka dapat  memperoleh pekerjaan, tetapi karena alih kontrak keluar negeri dimana pekerjaan  dipindahkan ke negara dengan tingkat upah yang lebih rendah. Selain itu juga memaksa  pekerja di negara dengan tinngkat upah tinggi untuk mau menerima upah rendah agar tetap bekerja.
                  Disisi lain, alih kontrak juga tidak dapat dihindari dalam era bisnis globalisasi saat ini, globalisasi  telah membuka pasar besar bagi produk-produk dari negara-negara maju dan  telah memberikan pelanggan dengan barang-barang baru dan lebih murah ( membuat haganya lebih kompetitif), artinya tingkat persaingan yang semakin ketat, dimana perusahaan harus   memberikan kualitas yang baik dengan biaya yang murah agar tetap terus bertahan. Perusahaaan alih kontrak ke luar negeri serng kali memberikan kualitas keja yang lebih baik dengan bia  ya yang lebih rendah. 

Apakah alih kontrak keluar negeri harus dibatasi? Bagaimana cara untuk membatasinya ? Mengapa atau mengapa tidak?
a.         Ya, alih kontrak ke luar negeri harus dibatasi karena ahli kontrak ke luar negeri memin    dahkan pekerjaan dari negara dengan tingkat upah tinggi ke nagara-negara dengan tingkat upah rendah akan merampas pekerjaan pada suatu negara yang tingkat upahnya tinggi dan memaksa pekerja untuk mau menerima upah rendah untuk tetap bekerja. 


b.         Cara membatasinya yaitu 
v  Dengan membagi pekerja  kontrak luar negeri ke dalam pekerjaan yang sifatnya ren    dah pemrograman dipindahkan ke negara-negara yang upahnya rendah sedangkan pekerjaan perancangan tingkat tinggi  menajerial dan manajemen diterapkan di dalam  ne geri.  seperti contoh untuk pekerja kontrak luar negeri mendapatkan  pekerjaan di pusat panggilan telepon, pekerjaan telemarketing, serta pekerjaan perbankan dan asu ransi.
v  Negara harus membuat rancangan undang – undang yang mengharuskan lembaga negara dan kontraktor untuk menggunakan tenaga kerja dari dalam. Seperti peraturan komposisi pekerjaan untuk di alihkan ke luar negeri.
c.         Karena dikawatirkan pekerja yang terdidik dan terlatih dengan baik akan terdesak karena dampak globalisasi seperti halnya dengan cara pekerja kasar. Meskipun perusahaan alih kontrak luar negeri sering kali memberikan kualitas kerja yang lebih baik dengan biaya lebih rendah.
  
    Bagaimana mungkin melakukan alih kontrak di AS dapat menciptakan pekerjaan baru di AS      pula? Jelaskan !
                   Dengan cara perusahaan yang alih kontrak ke luar negeri menggunakan sebagian besar dari keuntungannya untuk memperluas bisnis di negaranya dengan menciptakan bisnis baru yang dapat tenaga kerja di dalam negeri tersebut. Diperkirakan lebih dari 200.000 pekerjaan yang berhubungan dengan TI, dari pemrograman tingkat rendah sampai administrasi system, manajemen, dan perancangan yang diterapkan di Amerika serta pengaruh ahli kontrak ke luar negeri terhadap industry teknologi informasi sehingga pertengahan juli 2003 IBM membuat berita besar ketika pers mengetahui rencana perusahaan untuk memindahkan lebih banyak pekerjaan pemrograman dan pekerjaan kerah putih lainnya ke luart negeri. Sehingga IBM telah mempekerjakan kurang lebih 40.000 orang ke India pada tahun 2006.

Kamis, 27 November 2014

Masalah Sistem Toko West Alameda

Masalah Sistem pada Toko West Alameda (Studi kasus materi sistem informasi manajemen)
   1.      Tempat parkir yang penuh hingga harus menunggu 10 menit untuk dapat memparkirkan kendaraannya.
   2.      Antrian kasir yang panjang dikarenakan dari 15 tempat kasir yang tersedia hanya 4 yang buka dan melayani pembeli.
   3.      Habisnya stock penyala arang yang disebabkan oleh truk yang membawa persediaan rusak di Tuba City sehingga menyebabkan antrian panjang sehingga kasir harus memberikan kupon pemesanan, akibatnya petugas bekerja 2 kali.
  4.      Keadaan gudang yang berantakan menyebabkan susahnya menemukan penyala arang yang dibutuhkan konsumen.
   5.      Antrian panjang yang disebabkan oleh orang – orang yang menunggu untuk menguangkan cek dan mengembalikan pembelian karena pengemasan barang belenjaan yang tidak baik.
   6.      Salah satu dari kasirnya adalah seorang manajer took tersebut, sehingga dia merangkap jabatan dalam posisinya.



Tindakan perbaikan yang mungkin dilakukan :
   1.      Kendala lingkungan adalah area parkir yang sempit, perusahaan dapat menata ulang pembuatan area parkir dengan melebarkan area agar pengunjung lebih nyaman saat datang ke toko tersebut.
   2.      Kurangnya tenaga kasir yang menyebabkan antrian panjang dapat di selesaikan dengan menambah jumlah karyawan bagian kasir, semakin lancar kondisi di dalam gedung, maka semakin banyak pula orang-orang yang berminat membeli di took tersebut.
   3.      Dalam sebuah perusahaan yang membutuhkan pemasok, seharusnya mempunyai lebih dari satu pemasok yang professional sehingga apabila terjadi hal yang tidak inginkan dapat diatasi dengan baik.
   4.      Pengaturan persediaan yang buruk dapat diperbaiki dengan menata ulang kondisi persediaan yang dapat memudahkan para pegawainya untuk menyediakan barang yang dibutuhkan konsumen.
   5.      Pengemasan barang konsumen seharusnya dipisahkan oleh pegawai tersendiri yang mempunyai keahlian pengemasan  sehingga barang yang diberiakn lebih berkualitas.
    6.      Seorang manajer tidak seharusnya menangani hal-hal seperti kasir secara langsung karena dia telah memiliki tugas tersendiri sesuai strandar manajer secara umum.
Sistem Konseptual yang Dilakukan :
System yang digunakan adalah system lingkaran tertutup yaitu suatu sitem yang memiliki lingkaran umpan balik dan mekanisme pengendalian. System seperti ini dapat mengendalikan output-nya dengan membuat penyesuaian-penyesuaian pada input-nya.
Jadi, untuk menghasilkan output yang memuaskan, perlu diperbaiki terlebih dahulu input yang masih tidak sesuai system dimana dapat merusak target output yang maksimal.

 
Diberdayakan oleh Blogger.