Home » All posts
Jumat, 11 Oktober 2013
makalah teori konsumsi
BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Islam adalah agama yang mengatur segala aspek kehidupan, tidak terkecuali perilaku manusia. Manusia sebagai Khalifah bagi dirinya sendiri mempunyai peranan yang sangat penting dalam pemenuhan kebutuhan untuk menjalani kehidupan didunia.Kebutuhan manusia yang beragam jenisnya baik yang bersifat fisik maupun rohani.Islam mengatur bagaimana manusia dapat melakukan kegiatan – kegiatan konsumsi yang membawa manusia berguna bagi kemaslahatan hidupnya.Seluruh peraturan mengenai aktivitas konsumsi terdapat dalam al’Quran dan as-Sunnah. Perilaku konsumsi yang sesuai dengan ketentuan al’quran dan as-sunah ini akan membawa pelakunya mencapai keberkahan dan kesejahteraan hidupnya. Dalam islam konsumsi tidak dapat terlepas dari peran keimanan. Keimanan menjadi tolak ukur penting karena memberikan cara pandang dunia yang cenderung mempengaruhi kepribadian manusia. Seorang muslim yang bijak, haruslah mengerti tentang teori – teori konsumsi dan perilaku konsumsi menurut islam yang berpedoman pada al Qur’an dan as-Sunnah demi menuju falah (kebahagiaan dunia dan akhirat).
B. RUMUSAN MASALAH
Dari latar belakang diatas, maka penyusun mengambil rumusan masalah sebagai berikut :
a. Apa sebenarnya tujuan konsumsi dalam islam?
b. Bagaimana perilaku konsumsi dalam pandangan islam?
c. Bagaimana konsep maslahah dalam prilaku konsumen islami?
d. Apa dan bagaimana prinsip – prinsip konsumsi?
e. Bagaimana perbedaan antara teori konsumsi konvensional dengan teori konsumsi islami?
BAB II
PEMBAHASAN
Pengertian Konsumsi
Dalam mendefinisikan konsumsi terdapat perbedaan di antara para pakar ekonom, namun konsumsi secara umum didefinisikan dengan penggunaan barang dan jasa untuk memenuhi kebutuhan manusia. Dalam ekonomi islam konsumsi juga memiliki pengertian yang sama, tapi memiliki perbedaan dalam setiap yang melingkupinya. Perbedaan yang mendasar dengan konsumsi ekonomi konvensional adalah tujuan pencapaian dari konsumsi itu sendiri, cara pencapaiannya harus memenuhi kaidah pedoman syariah islamiyyah.
Pelaku konsumsi atau orang yang menggunakan barang atau jasa untuk memenuhi kebutuhannya disebut konsumen. Perilaku konsumen adalah kecenderungan konsumen dalam melakukan konsumsi, untuk memaksimalkan kepuasannya. Dengan kata lain, perilaku konsumen adalah tingkah laku dari konsumen, dimana mereka dapat mengilustrasikan pencarian untuk membeli, menggunakan, mengevaluasi dan memperbaiki suatu produk dan jasa mereka. Perilaku konsumen (consumer behavior) mempelajari bagaimana manusia memilih di antara berbagai pilihan yang dihadapinya dengan memanfaatkan sumberdaya (resources) yang dimilikinya
a. Tujuan konsumsi
Tujuan utama konsumsi seorang muslim adalah sebagai sarana penolong untuk beribadah kepada Allah. Sesungguhnya mengkonsumsi sesuatu dengan niat untuk meningkatkan stamina dalam ketaatan pengamdian kepada Allah akan menjadikan konsumsi itu bernilai ibadah yang dengannya manusia mendapatkan pahala. Sebab hal-hal yang mubah bisa menjadi ibadah jika disertai niat pendekatan diri (taqarrub) kepada Allah, seperti: makan, tidur dan bekerja, jika dimaksudkan untuk menambah potensi dalam mengabdi kepada Ilahi. Dalam ekonomi islam, konsumsi dinilai sebagai sarana wajib yang seorang muslim tidak bisa mengabaikannya dalam merealisasikan tujuan yang dikehendaki Allah dalam penciptaan manusia, yaitu merealisasikan pengabdian sepenuhnya hanya kepada-Nya, sesuai firman-Nya:
“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menghamba kepada-Ku.” (Q.S. Adz-Dzariyat: 56)
Karena itu tidak aneh, bila islam mewajibkan manusia mengkonsumsi apa yang dapat menghindarkan dari kerusakan dirinya, dan mampu melaksanakan kewajiban-kewajiban yang dibebankan Allah kepadanya.
Sedangkan, konsumsi dalam perspektif ekonomi konvensional dinilai sebagai tujuan terbesar dalam kehidupan dan segala bentuk kegiatan manusia di dalamnya, baik kegiatan ekonomi maupun bukan. Berdasarkan konsep inilah, maka beredar dalam ekonomi apa yang disebut dengan teori: “Konsumen adalah raja”. Di mana teori ini mengatakan bahwa segala keinginan konsumen adalah yang menjadi arah segala aktifitas perekonomian untuk memenuhi kebutuhan mereka sesuai kadar relatifitas keinginan tersebut. Bahkan teori tersebut berpendapat bahwa kebahagiaan manusia tercermin dalam kemampuannya mengkonsumsi apa yang diinginkan.
b. perilaku konsumsi dalam pandangan islam.
Teori konsumsi konvensional terdapat dua nilai dasar yang akan membedakan antara ekonomi konvensional dengan teori konsumsi dalam islam. Dalam teori konsumsi ekonomi konvensional dua nilai dasar (fundamental values) tersebut adalah rasionalisme dan utilitarianisme.Rasionalisme ini mengandung pengertian bahwa setiap konsumen dalam melakukan kegiatan konsumsi sesuai dengan sifatnya sebagai homo econancus. Dengan kata lain konsumen akan bertindak untuk memenuhi kepentingannya sendiri (self interest).Dapat juga diartikan sebagai perjuangan untuk kepentingan diri yang senantiasa diukur dengan berapa banyak uang atau bentuk kekayaan lain yang diperoleh. Menurut Chapra yang dikutip dalam Hendri, utilitarialisme merupakan suatu pandangan yang mengukur benar atau salah berdasarkan kriteria kesenangan, kesusahan, baik dan buruk. Dua nilai dasar ini perilaku konsumsi seseorang akan bersifat individualis yang diwujudkan dalam bentuk segala barang dan jasa yang dapat memberikan kesenangan atau kenikmatan. Secara sederhana dapat dikatan prinsip dasar konsumsi ekonomi konvesional adalah “saya akan mengkonsumsi apa saja dan dalam jumlah apapun sepanjang anggaran saya memenuhi dan saya memperoleh kepuasan maksimum “ .Prinsip dasar konsumsi dalam pandangan islam adalah anugerah – anugerah Allah itu semua milik manusia dan suasana yang menyebabkan sebagian diantara anugerah – anugerah itu berada ditangan orang-orang tertentu tidak berarti bahwa mereka dapat memanfaatkan anugerah-anugerah itu untuk mereka sendiri, sedangkan orang lain tidak memiliki bagiannya sehingga banyak diantara anugerah – anugerah yang diberikan Allah kepada umat manusia itu masih berhak mereka miliki walaupun mereka tidak memperolehnya. Dalam fondasi teori perilaku konsumsi islam mempunyai 3 prinsip, yaitu : keyakinan akan hari kiamat dan kehidupan akhirat, konsep sukses, dan fungsi dan kedudukan harta.Keyakinan akan hari kiamat akan membawa efek mendasar pada perilaku konsumsi, yaitu :
- Pilihan jenis konsumsi
Diorientasikan pada dua bagian yaitu langsung dikonsumsi untuk kepentingan dunia dan untuk kepentingan akhirat.
- Jumlah jenis pilihan kemungkinan menjadi lebih banyak, sebab mencakup jenis konsumsi untuk kepentingan akhirat.
c. Konsep Maslahah Dalam Perilaku Konsumen Islami
Dalam pandangan Islam kepuasan didasarkan pada suatu konsep yang disebut dengan maslahah. Imam Shatibi menggunakan istilah 'maslahah', yang maknanya lebih luas dari sekadar utility atau kepuasan dalam terminologi ekonomi konvensional. Menurut Imam Shatibi, maslahah adalah sifat atau kemampuan barang dan jasa yang mendukung elemen-elemen dan tujuan dasar dari kehidupan manusia di muka bumi ini. Ada lima elemen dasar menurut beliau, yakni: kehidupan atau jiwa (al-nafs), properti atau harta benda (al mal), keyakinan (al-din), intelektual (al-aql), dan keluarga atau keturunan (al-nasl). Semua barang dan jasa yang mendukung tercapainya dan terpeliharanya kelima elemen tersebut di atas pada setiap individu, itulah yang disebut maslahah. Kegiatan-kegiatan ekonomi meliputi produksi, konsumsi dan pertukaran yang menyangkut maslahah tersebut harus dikerjakan sebagai suatu ‘religious duty‘ atau ibadah. Tujuannya bukan hanya kepuasan di dunia tapi juga kesejahteraan di akhirat. Semua aktivitas tersebut, yang memiliki maslahah bagi umat manusia, disebut ‘needs’ atau kebutuhan. Dan semua kebutuhan ini harus dipenuhi. Mencukupi kebutuhan – dan bukan memenuhi kepuasan/keinginan – adalah tujuan dari aktivitas ekonomi Islami, dan usaha pencapaian tujuan itu adalah salah satu kewajiban dalam beragama.
Adapun sifat-sifat maslahah sebagai berikut:
1. Maslahah bersifat subyektif dalam arti bahwa setiap individu menjadi hakim bagi masing-masing dalam menentukan apakah suatu perbuatan merupakan suatu maslahah atau bukan bagi dirinya. Namun, berbeda dengan konsep utility, kriteria maslahah telah ditetapkan oleh syariah dan sifatnya mengikat bagi semua individu.
2. Maslahah orang per seorang akan konsisten dengan maslahah orang banyak. Konsep ini sangat berbeda dengan konsep Pareto Optimum, yaitu keadaan optimal di mana seseorang tidak dapat meningkatkan tingkat kepuasan atau kesejahteraannya tanpa menyebabkan penurunan kepuasan atau kesejahteraan orang lain.
3. Konsep maslahah mendasari semua aktivitas ekonomi dalam masyarakat, baik itu produksi, konsumsi, maupun dalam pertukaran dan distribusi.
Berdasarkan kelima elemen di atas,maslahah dapat dibagi dua jenis: pertama, maslahah terhadap elemen-elemen yang menyangkut kehidupan dunia dan akhirat, dan kedua: maslahah terhadap elemen-elemen yang menyangkut hanya kehidupan akhirat. Dengan demikian seorang individu Islam akan memiliki dua jenis pilihan:
1. Berapa bagian pendapatannya yang akan dialokasikan untuk maslahah jenis pertama dan berapa untuk maslahah jenis kedua.
2. Bagaimana memilih di dalam maslahah jenis pertama: berapa bagian pendapatannya yang akan dialokasikan untuk memenuhi kebutuhan kehidupan dunia (dalam rangka mencapai ‘kepuasan’ di akhirat) dan berapa bagian untuk kebutuhan akhirat.
Pada tingkat pendapatan tertentu, konsumen Islam, karena memiliki alokasi untuk hal-hal yang menyangkut akhirat, akan mengkonsumsi barang lebih sedikit daripada non-muslim. Hal yang membatasinya adalah konsep maslahah tersebut di atas. Tidak semua barang/jasa yang memberikan kepuasan/utility mengandung maslahah di dalamnya, sehingga tidak semua barang/jasa dapat dan layak dikonsumsi oleh umat Islam. Dalam membandingkan konsep ‘kepuasan’ dengan ‘pemenuhan kebutuhan’ (yang terkandung di dalamnya maslahah), kita perlu membandingkan tingkatan-tingkatan tujuan hukum syara’ yakni antara daruriyyah, tahsiniyyah dan hajiyyah. Penjelasan dari masing-masing tingkatan itu sebagai berikut:
1. Daruriyyah: Tujuan daruriyyah merupakan tujuan yang harus ada dan mendasar bagi penciptaan kesejahteraan di dunia dan akhirat, yaitu jiwa, keyakinan atau agama, akal/intelektual, keturunan dan keluarga serta harta benda. Jika tujuan daruriyyah diabaikan, maka tidak akan ada kedamaian, yang timbul adalah kerusakan (fasad) di dunia dan kerugian yang nyata di akhirat.
2. Hajiyyah: Syari’ah bertujuan memudahkan kehidupan dan menghilangkan kesempitan. Hukum syara’ dalam kategori ini tidak dimaksudkan untuk memelihara lima hal pokok tadi melainkan menghilangkan kesempitan dan berhati-hati terhadap lima hal pokok tersebut.
3. Tahsiniyyah: syariah menghendaki kehidupan yang indah dan nyaman di dalamnya. Terdapat beberapa provisi dalam syariah yang dimaksudkan untuk mencapai pemanfaatan yang lebih baik, keindahan dan simplifikasi dari daruriyyah dan hajiyyah. Misalnya dibolehkannya memakai baju yang nyaman dan indah. . Prinsip-Prinsip Konsumsi
d. prinsip – prinsip konsumsi.
Menurut Abdul Mannan, dalam melakukan konsumsi terdapat lima prinsip dasar, yaitu:
1. Prinsip Keadilan
Prinsip ini mengandung arti ganda mengenai mencari rizki yang halal dan tidak dilarang hukum. Artinya, sesuatu yang dikonsumsi itu didapatkan secara halal dan tidak bertentangan dengan hukum. Berkonsumsi tidak boleh menimbulkan kedzaliman, berada dalam koridor aturan atau hukum agama, serta menjunjung tinggi kepantasan atau kebaikan. Islam memiliki berbagai ketentuan tentang benda ekonomi yang boleh dikonsumsi dan yang tidak boleh dikonsumsi. “Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi” (Qs al-Baqarah,2 : 169). Keadilan yang dimaksud adalah mengkonsumsi sesuatu yang halal (tidak haram) dan baik (tidak membahayakan tubuh). Kelonggaran diberikan bagi orang yang terpaksa, dan bagi orang yang suatu ketika tidak mempunyai makanan untuk dimakan. Ia boleh memakan makanan yang terlarang itu sekedar yang dianggap perlu untuk kebutuhannya ketika itu saja.
2. Prinsip Kebersihan
Bersih dalam arti sempit adalah bebas dari kotoran atau penyakit yang dapat merusak fisik dan mental manusia, misalnya: makanan harus baik dan cocok untuk dimakan, tidak kotor ataupun menjijikkan sehingga merusak selera. Sementara dalam arti luas adalah bebas dari segala sesuatu yang diberkahi Allah. Tentu saja benda yang dikonsumsi memiliki manfaat bukan kemubaziran atau bahkan merusak.
“Makanan diberkahi jika kita mencuci tangan sebelum dan setelah memakannya” (HR Tarmidzi). Prinsip kebersihan ini bermakna makanan yang dimakan harus baik, tidak kotor dan menjijikkan sehingga merusak selera. Nabi juga mengajarkan agar tidak meniup makanan: ”Bila salah seorang dari kalian minum, janganlah meniup ke dalam gelas” (HR Bukhari).
3. Prinsip Kesederhanaan
Sikap berlebih-lebihan (israf) sangat dibenci oleh Allah dan merupakan pangkal dari berbagai kerusakan di muka bumi. Sikap berlebih-lebihan ini mengandung makna melebihi dari kebutuhan yang wajar dan cenderung memperturutkan hawa nafsu atau sebaliknya terlampau kikir sehingga justru menyiksa diri sendiri. Islam menghendaki suatu kuantitas dan kualitas konsumsi yang wajar bagi kebutuhan manusia sehingga tercipta pola konsumsi yang efesien dan efektif secara individual maupun sosial.
“Makan dan minumlah, tapi jangan berlebihan; Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan” (Qs al-A’raf, 7: 31). Arti penting ayat-ayat ini adalah bahwa kurang makan dapat mempengaruhi jiwa dan tubuh, demikian pula bila perut diisi dengan berlebih-lebihan tentu akan berpengaruh pada perut.
4. Prinsip Kemurahan hati.
Allah dengan kemurahan hati-Nya menyediakan makanan dan minuman untuk manusia (Qs al-Maidah, 5: 96). Maka sifat konsumsi manusia juga harus dilandasi dengan kemurahan hati. Maksudnya, jika memang masih banyak orang yang kekurangan makanan dan minuman maka hendaklah kita sisihkan makanan yang ada pada kita, kemudian kita berikan kepada mereka yang sangat membutuhkannya.
Dengan mentaati ajaran Islam maka tidak ada bahaya atau dosa ketika mengkonsumsi benda-benda ekonomi yang halal yang disediakan Allah karena kemurahan-Nya. Selama konsumsi ini merupakan upaya pemenuhan kebutuhan yang membawa kemanfaatan bagi kehidupan dan peran manusia untuk meningkatkan ketaqwaan kepada Allah maka Allah elah memberikan anugrah-Nya bagi manusia.
5. Prinsip Moralitas.
Pada akhirnya konsumsi seorang muslim secara keseluruhan harus dibingkai oleh moralitas yang dikandung dalam Islam sehingga tidak semata – mata memenuhi segala kebutuhan. Allah memberikan makanan dan minuman untuk keberlangsungan hidup umat manusia agar dapat meningkatkan nilai-nilai moral dan spiritual. Seorang muslim diajarkan untuk menyebut nama Allah sebelum makan dan menyatakan terimakasih setelah makan.
e. perbedaan antara teori konsumsi konvensional dengan teori konsumsi islami.
- Perbedaan kebutuhan dan keinginan
Agama islam menolak perilaku manusia untuk selalu memenuhi segala keinginannya.Dalam pemahaman teori konvensional disebutkan yang menjadi penggerak dasar konsumsi adalah keinginan sehingga tercapailah kepuasan maksimum.Berbeda dengan pandangan islam bahwa yang menjadi penggerak dasar konsumsi adalah motif kebutuhan untuk mencapai manfaat yang maksimum.
- Perbedaan maslahah dan utility.
Maslahah individu akan relative konsisten dedngan maslahah social, sementara utilitas individusanagat mungkin berbeda dengan utilitas social.Hal ini terjadi karena dasar penentuannya yang lebih obyektif sehingga lebih mudah diperbandingkan, dianalisi,dan disesuaikan antara satu orang dengan orang lain, antar individu dan social. Jika maslahah dijadikan tujuandari seluruh pelaku ekonomi yaitu produsen, konsumen dan distributor, maka arah pembangunan ekonomi akan menuju pada satu titik yang sama yaitu peningkattan kesejahteraan hidup ini akan berbeda dengan utilitas, dimana konsumen akan mengukurnya dari pemenuhan keinginannya, produsen dan distributor mengedepankan keuntungan.
BAB III
PENUTUP
A. SIMPULAN
Dari pembahasan diatas, penyusun dapat menyimpulkan bahwa agama islam merupakan agama yang komprehensif tidak hanya mengatur urusan akidah saja namun juga dibidang syaria. Begitu pula masalah konsumsi yang dilakukan kita dalm sehari – hari. Tujuan konsumsi seorang muslim pada hakekatnya adalah sebagai sarana penolong untuk beribadah kepada Allah SWT. Mengkonsumsi sesuatu dengan niat untuk meningkatkan stamina dalam ketaatan pengabdian kepada Allah akan menjadikan konsumsi itu bernilai ibadah yang dengannya manusia mendapatkan pahala.Dalam berkonsumsi haruslah memegang teguh eberapa prinsip konsumsi yang diantaranya, prinsip keadilan, kebersihan, kesederhanaan, kemurahan hati,dan moralitas. Konsumsi ekonomi konvensional berbeda sekali dengan konsumsi islami.Konsumsi islami tidak hanya mengedepankan aspek kepuasan didunia saja tetapi juga memikirkan kepuasan alam akhirat. Bagi kaum muslimin kehidupan akhirat merupakan puncak tujuan dari segala tujuan yang ada didunia ini.
B. SARAN
Saran penyusun ditujukan pada diri kita semua selaku pemeluk ajaran islam. Ajaran islam mengatur seluruh aspek kehidupan, dalam mengkonsumsi suatu barang hendaknya kita berpedoman pada al-Qur’an dan as-Sunnah. Dalam berkonsumsi kita harus mengetahui manfaat dan keberkahan yang dihasilkan oleh barang yang kita konsumsi tersebut, janganlah kita menuruti semua keinginan kita karena keinginan kita terbagi menjadi dua hal yaitu keinginan yang baik dan keinginan yang buruk.
DAFTAR PUSTAKA
- Al-Haritsi, Jaribah bin Ahmad. Fikih Ekonomi Umar bin Al-Khathab. Jakarta: Khalifa (Pustaka Al-Kautsar Group), 2006.
- Anto, Hendrie. Pengantar Ekonomi Mikro Islam,Yogyakarta: Ekonosia, 2003.
- Http://painoalganteng.blogspot.com/2011/05/teori-konsumsi-islami.
makalah eyd
manajemen persediaan
Senin, 16 September 2013
analisis desain pekerjaan
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Keberhasilan suatu organisasi dipengaruhi oleh kinerja karyawannya atau hasil kerja yang dicapai oleh seorang karyawan dalam melakukan tugas-tugas dan tanggung jawab yang diberikan kepadanya. Saat ini, perusahaan dituntut untuk mencapai tingkat tujuannya yang telah di rencanakan sebelumnya secara efektif dan efisien.
Lembaga bank merupakan lembaga yang sangat berperan dalam pembangunan di negeri ini. Di dalam sebuah lembaga organisasi / perusahaan, yang paling utama adalah sumber daya manusianya, karena pada hakikatnya manusia itu tidak dapat tergantikan, jika barang mungkin dapat digantikan, tetapi manusia adalah actor yang paling utama dalam perusahaan.
Dalam rangka meningkatkan moral, motivasi dan kinerja dari karyawan, organisasi perlu memberi perhatian pada karyawannya. Bentuk dari perhatian tersebut dapat berupa desain pekerjaan atau redesain pekerjaan yang dapat meningkatkan kinerja karyawan.
Motivasi dan moral kerja karyawan yang menurun di sebabkan oleh beberapa faktor yang mempegaruhinya, diantaranya kejenuhan dalam pekerjaannya, karyawan merasa pekerjaannya kurang berarti, pekerjaan yang dilakukan adalah pekerjaan yang biasa-biasa saja, tertalu mudah, sehingga perlu penataan ulang terhadap pekerjaan karyawan tersebut.
Kepuasan kerja merupakan evaluasi yang menggambarkan seseorang atas perasaan sikapnya senang atau tidak, puas atau tidak yang dapat mempengaruhi kinerja karyawan.
B. Rumusan Masalah
Mengkaji dari latar belakang penulisan penelitian, maka penyusun mengambil rumusan masalah sebagai berikut:
1. Bagaimanakah teknik desain ulang pekerjaan dalam menyikapi masalah penurunan moral kerja yang disebabkan kejenuhan kerja karyawan yang dilakukan pada PT Bank BRI Persero Cabang Kebumen Unit Ambal?
2. Bagaimanakah peranan faktor-faktor yang mempengaruhi desain pekerjaan terhadap pengambilan keputusan desain pekerjaan karyawan yang dilakukan pada PT Bank BRI Persero Cabang Kebumen Unit Ambal serta pengaruhnya terhadap motivasi kerja karyawannya?
3. Bagaimanakah kepuasan kerja yang dirasakan oleh karyawan terhadap Desain Pekerjaan yang dilakukan pada PT Bank BRI Persero Cabang Kebumen Unit Ambal?
BAB II
LANDASAN TEORI
A. Pengertian Desain Pekerjaan
Suatu pekerjaan sebelumnya harus dirancang atau dilakukan desain pekerjaan, hal ini dilakukan untuk memberikan efek positif bagi peningkatan produktivitas dan efisiesi baik pada pola kerja maupun dari segi pembiayaan tenaga kerja. Pengertian dari desain pekerjaan adalah merupakan fungsi penetapan kegiatan-kegiatan kerja seorang karyawan secara organisasional atau proses penentuan tugas-tugas yang harus dilaksanakan oleh pemegang jabatan, hak untuk mengatur pekerjaan tersebut,dan tanggung jawab dari satu paket pekerjaan. Di lain pihak desain pekerjaan dikatakan “job design is concerned with the way that task are combined to form complete job”.(Marihot Tua, 2005).
Menurut Sunarto dan Sahedhy Noor (2003), pengertian desain pekerjaan (job desigin) adalah proses penentuan tugas-tugas yang akan dilaksanakan, metode yang digunakan untuk melaksanakan tugas-tugas ini dan bagaimana pekerjaan tersebut berkaitan dengan pekerjaan lainnya di daam organisasi. Dalam desain pekerjaan dilakukan pengorganisasian kerja kedalam tugas-tugas yang dibutuhkan untuk melaksanakan sebuah pekerjaan tertentu.
Fokus desain pekerjaan bisa pada posisi individu atau kelompok kerja, yaitu :
- Pekerjaan individual dapat diperkaya dengan mengelompokkan tugas-tugas ke dalam unit-unit kerja dasar.
- Pendekatan yang berkaitan adalah mengkombinasikan beberapa tugas ke dalam satu pekerjaan
- Dalam memperkaya pekerjaan adalah membuat hubungan langsung dengan klien atau pelanggan
- Umpan balik yang cepat dan khusus haruslah dimasukkan kedalam sistem yang cocok.
- Pekerjaan individual dapat diperkaya melalui muatan kerja vertikal, yang meningkatkan tanggung jawab individual pada perencanaan, pelaksanaan, dan pengendalian pekerjaan.
Penjelasan yang serupa dapat dibuat untuk meningkatkan desain pekerjaan bagi tim kerja. Pekerjaan harus dirancang sehingga kelompok memiliki tugas yang lengkap untuk dilaksanakan. Akhirnya balas jasa dapat dilaksanakan sesuai dengan kinerja kelompok secara keseluruhan, yang cenderung memyebabkan kerjasama diantara anggota tim.
Desain pekerjaan yang efektif merupakan proses memadukan pekerjaan dengan tujuan organisasional, memaksimalkan motivasi karyawan,mencapai standar kinerja, dan mencocokkan keahlian dan kemampuan karyawan dengan persyaratan pekerjaan semuanya merupakan pertimbangan-pertimbangan kunci.
Bagan kerangka acuan untuk desain pekerjaan.
Umpan balik
Umpan balik
Bagan diatas memaparkan arti penting desain pekerjaan bagi kalangan karyawan dan organisasi. Desain pekerjaan menentukan cara dan sejauh mana tugas-tugas diselesaikan oleh pemangku jabatan.Reaksi karyawan yang baik terhadap deain pekerjaan berarti penuntasan yang lebih besar, kepuasan kerja yang lebih tinggi,lebih sedikit ketidakhadiran, lebih jarang keluhan, dan lebih sedikit perputaran karyawan.
B. Deskripsi Pekerjaan
Deskripsi pekerjaan merupakan produk yang pertama dan langsung dari proses anaisis pekerjaan. Deskripsi pekerjaan adalah merupakan dokumen yang menyediakan informasi mengenai kewajiban, tugas, dan tanggung jawab pekerjaan.
Deskripsi pekerjaan harus berisi pernyataan ringkas dan akurat yang menunjukkan apa yang dekerjakan karyawan, bagaimana merka mengerjakannya, dan kondisi dimana tugas dilaksanakan. Fakta tadi harus diorganisasikan dengan cara tertentu agar aplikatif. Deskripsi pekerjaan menjadi landasan bagi banyak aktivitas sumber daya manusia. Deskripsi pekerjaan memberikan standar objektif untuk pengisisan setiap pekerjaan, serta merupakan alat untuk mengisi pekerjaan tersebut melalui promosi dan pengengkatan. Tujuan deskripsi pekerjaan adalah untuk menyediakan informasi organisasional dan structural disamping informasi fungsional.
C. Manfaat dan Kelemahan Deskripsi Pekerjaan
1. Manfaat Deskripsi Pekerjaan
Deskripsi pekerjaan melayani berbagai tujuan bagi spesialis sumber daya manusia. Beberapa aktivitas kepegawaian dan kompensasi tergantung pada informasi pekerjaan yang ormalnya ditemulan dalam deskripsi pekerjaan. Manfaat deskripsi pekerjaan antara lain untik desain organisasi, klarifikasi tanggung jawab, rekruitmen, desain tes, wawancara orientasi, pelatihan, evaluasi pekerjaan, survey kompensasi, penempatan keluar (Simamora, 2004).
- Desain Organisasi
Deskripsi pekerjaan melengkapi instrumen deskriptif lainnya seperti bagab organisasi, ketetapan fungsi unit kerja dengan memberikan informasi yang lebih lengkap tentang hubungan organisasional dan keluaran.
- Klarifikasi tanggung jawab
Deskripsi pekerjaan membantu menghindari adanya kebingungan dan memberikan pemahaman atau penjelasan. Gambaran yang jelas atau apa yang akan menjadi tanggung jawab seseorang individu dapat mengurangi kesalahpahaman dan ambiguitas atau kemenduan.
- Rekruitmen
Deskripsi pekerjaan dapat pula dipakai untuk membuka iklan rekruitmen dan memberikan informasi tambahan kepada pelamar tentang lowongan kerja. Deskripsi Pekerjaan juga memfasilitasi prosedur rekruitmen.
- Desain tes
Orang-orang yang terlibat dalam perencangan tes yang akan dipakai untuk mengidentifikasi calon yang paling cocok dengan pekerjaan perlu memastikan bahwa mereka dapat mengaitkan unsure –unsur tes dengan persyaratak pekerjaan.
- Wawancara
Dalam wawancara, deskripsi pekerjaan menyediakan informasi yang ringkas dan lengkap tentang pekerjaan kepada pewawancara.
- Orientasi
Dengan menggunakan deskripsi pekerjaan sebagai pendahuluan untuk pekerjan akan membantu menentukan persyaratan pekerjaan dan menolong karyawan baru memahami secara lebih dalam apa yang diharapkan oleh organisasi.
- Pelatihan
Organisasi menggunakan deskripsi pekerjaan untuk menetapkan pelatihan yang dibutuhkan oleh kalangan karyawan untuk kinerja yang efektif dan jenis pelatihan yang dibutuhkan agar layak dipromosikan.
- Evaluasi Pekerjaan
Deskripsi pekerjaan sering kali menentukan faktor perbandingan dalam mengambil keputusan mengenai gaji.
- Penilaian kinerja
Deskripsi pekerjaan dapat menentukan landasan penilaian kinerja karyawan. Jika karyawan diberitahu tentang bidang dan tugas yang menjadi tanggung jawabnya, maka mereka diberitahu sebelumnya tentang apa yang kelak akan di evaluasi.
- Survei kompensasi
Deskripsi pekerjaan memberikan kesempatan kepada spesialis sumber daya manusia untuk mengestimasi apakah upah yang dibayarkan untuk sebuah pekerjaan telah adil jika dibandingkan dengan upah pekerjaan serupa di organisasi lainnya.
- Penempatan keluar
Deskripsi pekerjaan dapt pula memainkan peran penting dalam proses perubahan karier. Organisasi yang merumahkan karyawan secara sementara atau merampingkan strukturnya secarra permanen tetaplah ingin membantu karyawannya tersebut. Spesialis sumber daya manusia dapat memanfaatkan deskripsi pekerjaan untuk membantu penyusunan resume yang memberikan informasi lengkap. Spesialis sumber daya manusia jiga mengacu kepada deskripsi pekerjaan ketika memberikan informasi referensi kepada calon majikan karyawan yang baru.
2. Kelemahan Deskripsi pekerjaan
Deskripsi pekerjaan sahih selama deskripsi itu mewakili muatan pekerjaan, lingkungan, dan kondisi kepegawaian secara akurat. Jika analisis pekerjaan tidak di mutakhirkan secara berkala, dinamika pekerjaan dapat mengubah deskripsi pekerjaan secara signifikan. Dinamikamenuntut adanya perubahan deskripsi pekerjaan sebagaimana halnya pada program pelatihan. Deskripsi pekerjaan bersifat naratif, deskripsi tertulis perihal pekerjaan yang tersusun saat ini. Dari sudut perilaku, deskripsi pekerjaan steril dari dan tidak memperhitungkan dinamika pekerjaaan. Hal ini biasanya dapat diamati pada deskripsi jabatan pada posisi eksekutif dan manajerial dimana pemegang jabatan berpengaruh besar atas aktivitas kerja mereka, yaitu pada persentase waktu yang mereka aloksikan untuk melaksanakan aktivitas lainnya serta cara mereka melakukan aktivitas tersebut. Jika Tujuan khusus dimasa depan tidak dijadikan basis pengumpulan informasi untuk analisis organisasi pekerjaan, maka deskripsi pekerjaan tidak akan lengkap. Di samping membantu proses seperti evaluasi pekerjaan yang bersifat naratif dapat menimbulkan efek boomerang, hal yang sama sekal berlawanan dengan kegunaannya.
D. Teknik Desain Pekerjaan
Teknik Desain Pekerjaan adalah teknik yang digunakan untuk mengubah prosedur kerja dan tergantung pada situasi yang ada, meningkatkan atu mengurangi tuntutan kerja. Teknik-teknik desain pekerjaan sangat menolong dalam menyikapi masalh moral kerja yang disebabkan oleh kebosanan atau pekerjaan yang tidak bermakna. Manakal para karyawan tidak merasa tertantang oleh pekerjaan mereka atau meyakini bahwa pekerjaan mereka tidak berarti, moral kerja cenderung merosot. Sebaliknya jika kalangan karyawan merasa tertantang oleh pekerjaan dan meyakini bahwa pekerjaan mereka bermakna, moral kerja cenderung meningkat dan tetep tinggi. Teknik desain Pekerjaan sering dipakai untuk meningkatkan moral kerja. Seperti yang terlihat pada bagan dibawah ini, bagi para manajer tersedia beraneka opsi desain pekerjaan individu dan kelompok.Rotasi pekerjaan, pemekaran pekerjaan, dan pmerkayaan pekerjaan merupakan beberapa pendekatan yang berhubungan dengan desain atau redesain tugas individu. Pendekatan untuk desain atau redesain pekerjaan atau kelompook meliputi pembentukan tim kerja, kelmpok kerja otonom, dan lingkungan mutu (Simamora, 2004).
Bagan Teknik Desain Pekerjaan
Teknik desain individu Teknik desain kelompok
E. Faktor-faktor yang mempengaruhi Desain Pekerjaan
Menurut Simamora (2004), ada 3 faktor yang mempengaruhi desain dari suatu pekerjaan, yaitu factor lingkungan, factor organisasional, dan factor keperilakuan.
1. Faktor Lingkungan
Faktor lingkungan kerja ada dua hal yang perlu dipertimbangkan, yaitu sistem politis,dan ekspektasi sosial.
- Sistem politis
Semua organissasi dipengaruhi oleh system politis dan lingkungannya. Organisasi harus memenuhi undang-undang local,dan internasional maupun regulasi sekiranya mereka ingin tetap bertahan hidup. Kalangan manajer perlu menyadari betul bahwa pada akhirnya setiap aspek kiprah bisinis mereka akan dipengaruhi oleh pertimbangan hokum.Desain pekerjaan juga dipengaruhi oleh peraturan pemerintah. Manajemen mungkin ingin merancang sebuah pekerjaan sebuah cara yang dapat kinerja karyawannya, tetapi dalam melakukan hal itu akan melanggar undang-undang perburuhan atau standar lingkungan maupun keselamatan kerja.
- Ekspektasi sosial
Kemamputerimaan sebuah desain pekerjaan sebagian diakibatkan oleh ekspektasi sosial. Kultur, etika kerja dan agama semuanya membantu terbentuknya ekspektasi sosial. Contohnya adalah mengalirnya tenaga kerja kasar dari desa ke kota besar. Mereka umumnya bersedia menerima pekerjaan dengan upah rendah yang bersifat rutin, sulit secara fisik dan menuntut hari kerja yang panjang dan melelahkan.
2. Faktor Organisasional
Faktor dari organisasional yang perlu dipertimbangkan meliputi biaya, otomasi, teknologi, integrasi fungsional silang, serikat pekerja, serta struktur dan filosofi.
- Biaya
Meskipun desain ulang pekerjaan mungkin sangat dikehendaki, biayanya mungkin menjadi kendala.Seorang manajer haruslah secara berkesinambungan menyeimbangkan manfaat desain pekerjaan dengan biayanya.
- Otomasi
Redesain pekerjaan melalui otomasi telah dilakukan oleh banyak perusahaan termasuk perusahaan dalam industry otomotif dan industry baja guna memotong biaya tenaga kerja
- Teknologi
Tipe perlengkapan dan peralatan yang digunakan, serta tata letak pekerjaan dan metode tertentu yang diaplikasikan untuk menghasilkan barang dan jasa yang cenderung menjadi kendala. Teknologi dapat membuat redesain pekerjaan menjadi sulit dan mahal, tetapi tidak mustahil. Banyak manajer yang menginginkan teknologi canggih didalam organisasi mereka.
- Integrasi fungsional silang.
Integrasi fungsional silang adalah tindakan pengkombinasian beberapa pekerjaan kedalam sebuah pekerjaan. Akhir-akhir ini beberapa organisasi memulai integrasi fungsional silang guna menekan biaya kerja dan meningkatkan produktivitas.
- Serikat Pekerja
Jika sebuah perusahaan mempunyai serikat pekerja, desain pekerjaan dapat dipengaruhi oleh filosofi, kebijakan dan strategi serikat pekerja. Biasanya kontrak antara perusahaan dan serikat pekerja menentukan dan membatasi tipe pekerjaan dan kewajiban serta tanggung jawab para pekerja.
- Struktur dan filosofi
Pekerjaan individu harus harmonis dengan keseluruhan struktus organisasi.
3. Faktor keperilakuan
Dari faktor keperilakuan yang perlu dipertimbangkan adalah:
- Bauran keahlian kumpulan tenaga kerja
Sebelum mencoba program desain atau redesain pekerjaan, manajer harus menentukan apakah keahlian karyawan cocok dengan keahlian yang baru. Adakalanya pelatihan tambahan sangat diperlukan.
- Perancangan pekerjaan yang sesuai dengan kebutuhan pada karyawan dan teknologi.
Perancanan pekerjaan membutuhkan suatu pemeriksaan terhadap keinginan, kebutuhan dan kehendak para karyawan.Perancangan pekerjaan yang sesuai dengan teknologi sering menyita perhatian.
F. Klasifikasi Pegawai
Klasifikasi pegawai adalah sebagai pengkategorian pegawai, kedudukan sesuan degan jenis pegawai dan jenis kecakapan, pengetahuan dan kemampuan yang diperlukan. Terdapat dua macam klasifikasi yang biasa dipergunakan, meliputi :
- Pegawai-pegawai dibagi dalam klasifikasi-klasifikasi okupasi yan umum.
- Dalam setiap klasifikasi okupasi yang umum, pegawai-pegawai dibedakan menurut tingkat tanggung jawabnya.
Adapun system klasifikasi yang sering dipergunakan baik oleh organisasi publik maupun organisasi swasta adalah :
- Masukan informasi adalah bagaimana pegawai memperoleh informasi yang diperlukan untuk pelaksanaan kerja.
- Proses-proses mental adalah pertimbangan apa yang ditekankan dalam pembuatan-pembuatan keputusan, perencanaan dan aktivitas-aktivitas prose informasi yang dilibatkan dlam pelaksanaan pegawai.
- Output pegawai adalah meliputi aktiviatas-aktivitaas fisik apa yang dilakukan pegawai serta alat-alat apa yang diperlukan,
- Relasi dengan orang lain, kebutuhan relasi yang diperlukan pegawai.
G. Motivasi kerja karyawan
Motivasi adalah proses yang menjelaskan intensitas, arah dan ketekunan seorang individu untuk mencapai tujuannya.Seseorang dikatakan mempunyai motivaasi yang tinggi dapat diartikan orang tersebut memiliki alas an yang sangat kuat untuk mencapai apa yang diinginkannya melalui pekerjaan yang ia kerjakan sekarang. Berdasarkan teori kebutuhan Abraham Maslow, teori x dan y douglas Mc Gregor motivasi adalah alas an yang mendasari sebuah perbuatan yang dilakukan seseorang.
H. Kepuasan Kerja Karyawan
Menurut Veithzal Rivaidan Ella Jauvani (2009) Kepuasan kerja merupakan evaluasi yang menggambarkan seseorang atas perasaan sikapnya senang atau tidak, puas atau tidak yang dapat mempengaruhi kinerja karyawan.
Faktor-faktor yang mempengaruhi kepuasan kerja:
- Kerja yang secara mental menantang, karyawan cenderung menyukai pekerjaan-pekerjaan yang member mereka kesempatanuntuk mrnggunakan keterampilan dan kemampuan mereka.
- Ganjaran yang pantas
- Kondisi kerja yang mendukung
- Rekan kerja yang mendukung
DAFTAR PUSTAKA
Danang, Sunyoto.2012.Manajemen Sumber Daya Manusia.CAPS(Center for Academic Publishing Service):Yogyakarta
Langganan:
Postingan
(
Atom
)