Jumat, 11 Oktober 2013

marketing mix

makalah teori konsumsi


BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Islam adalah agama yang mengatur segala aspek kehidupan, tidak terkecuali perilaku manusia. Manusia sebagai Khalifah bagi dirinya sendiri mempunyai peranan yang sangat penting dalam pemenuhan kebutuhan untuk menjalani kehidupan didunia.Kebutuhan manusia yang beragam jenisnya baik yang bersifat fisik maupun rohani.Islam mengatur bagaimana manusia dapat melakukan kegiatan – kegiatan konsumsi yang membawa manusia berguna bagi kemaslahatan hidupnya.Seluruh peraturan mengenai aktivitas konsumsi terdapat dalam al’Quran dan as-Sunnah. Perilaku konsumsi yang sesuai dengan ketentuan al’quran dan as-sunah ini akan membawa pelakunya mencapai keberkahan dan kesejahteraan hidupnya. Dalam islam konsumsi tidak dapat terlepas dari peran keimanan. Keimanan menjadi tolak ukur penting karena memberikan cara pandang dunia yang cenderung mempengaruhi kepribadian manusia. Seorang muslim yang bijak, haruslah mengerti tentang teori – teori konsumsi dan perilaku konsumsi menurut islam yang berpedoman pada al Qur’an dan as-Sunnah demi menuju falah (kebahagiaan dunia dan akhirat). B. RUMUSAN MASALAH Dari latar belakang diatas, maka penyusun mengambil rumusan masalah sebagai berikut : a. Apa sebenarnya tujuan konsumsi dalam islam? b. Bagaimana perilaku konsumsi dalam pandangan islam? c. Bagaimana konsep maslahah dalam prilaku konsumen islami? d. Apa dan bagaimana prinsip – prinsip konsumsi? e. Bagaimana perbedaan antara teori konsumsi konvensional dengan teori konsumsi islami? BAB II PEMBAHASAN Pengertian Konsumsi Dalam mendefinisikan konsumsi terdapat perbedaan di antara para pakar ekonom, namun konsumsi secara umum didefinisikan dengan penggunaan barang dan jasa untuk memenuhi kebutuhan manusia. Dalam ekonomi islam konsumsi juga memiliki pengertian yang sama, tapi memiliki perbedaan dalam setiap yang melingkupinya. Perbedaan yang mendasar dengan konsumsi ekonomi konvensional adalah tujuan pencapaian dari konsumsi itu sendiri, cara pencapaiannya harus memenuhi kaidah pedoman syariah islamiyyah. Pelaku konsumsi atau orang yang menggunakan barang atau jasa untuk memenuhi kebutuhannya disebut konsumen. Perilaku konsumen adalah kecenderungan konsumen dalam melakukan konsumsi, untuk memaksimalkan kepuasannya. Dengan kata lain, perilaku konsumen adalah tingkah laku dari konsumen, dimana mereka dapat mengilustrasikan pencarian untuk membeli, menggunakan, mengevaluasi dan memperbaiki suatu produk dan jasa mereka. Perilaku konsumen (consumer behavior) mempelajari bagaimana manusia memilih di antara berbagai pilihan yang dihadapinya dengan memanfaatkan sumberdaya (resources) yang dimilikinya a. Tujuan konsumsi Tujuan utama konsumsi seorang muslim adalah sebagai sarana penolong untuk beribadah kepada Allah. Sesungguhnya mengkonsumsi sesuatu dengan niat untuk meningkatkan stamina dalam ketaatan pengamdian kepada Allah akan menjadikan konsumsi itu bernilai ibadah yang dengannya manusia mendapatkan pahala. Sebab hal-hal yang mubah bisa menjadi ibadah jika disertai niat pendekatan diri (taqarrub) kepada Allah, seperti: makan, tidur dan bekerja, jika dimaksudkan untuk menambah potensi dalam mengabdi kepada Ilahi. Dalam ekonomi islam, konsumsi dinilai sebagai sarana wajib yang seorang muslim tidak bisa mengabaikannya dalam merealisasikan tujuan yang dikehendaki Allah dalam penciptaan manusia, yaitu merealisasikan pengabdian sepenuhnya hanya kepada-Nya, sesuai firman-Nya: “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menghamba kepada-Ku.” (Q.S. Adz-Dzariyat: 56) Karena itu tidak aneh, bila islam mewajibkan manusia mengkonsumsi apa yang dapat menghindarkan dari kerusakan dirinya, dan mampu melaksanakan kewajiban-kewajiban yang dibebankan Allah kepadanya. Sedangkan, konsumsi dalam perspektif ekonomi konvensional dinilai sebagai tujuan terbesar dalam kehidupan dan segala bentuk kegiatan manusia di dalamnya, baik kegiatan ekonomi maupun bukan. Berdasarkan konsep inilah, maka beredar dalam ekonomi apa yang disebut dengan teori: “Konsumen adalah raja”. Di mana teori ini mengatakan bahwa segala keinginan konsumen adalah yang menjadi arah segala aktifitas perekonomian untuk memenuhi kebutuhan mereka sesuai kadar relatifitas keinginan tersebut. Bahkan teori tersebut berpendapat bahwa kebahagiaan manusia tercermin dalam kemampuannya mengkonsumsi apa yang diinginkan. b. perilaku konsumsi dalam pandangan islam. Teori konsumsi konvensional terdapat dua nilai dasar yang akan membedakan antara ekonomi konvensional dengan teori konsumsi dalam islam. Dalam teori konsumsi ekonomi konvensional dua nilai dasar (fundamental values) tersebut adalah rasionalisme dan utilitarianisme.Rasionalisme ini mengandung pengertian bahwa setiap konsumen dalam melakukan kegiatan konsumsi sesuai dengan sifatnya sebagai homo econancus. Dengan kata lain konsumen akan bertindak untuk memenuhi kepentingannya sendiri (self interest).Dapat juga diartikan sebagai perjuangan untuk kepentingan diri yang senantiasa diukur dengan berapa banyak uang atau bentuk kekayaan lain yang diperoleh. Menurut Chapra yang dikutip dalam Hendri, utilitarialisme merupakan suatu pandangan yang mengukur benar atau salah berdasarkan kriteria kesenangan, kesusahan, baik dan buruk. Dua nilai dasar ini perilaku konsumsi seseorang akan bersifat individualis yang diwujudkan dalam bentuk segala barang dan jasa yang dapat memberikan kesenangan atau kenikmatan. Secara sederhana dapat dikatan prinsip dasar konsumsi ekonomi konvesional adalah “saya akan mengkonsumsi apa saja dan dalam jumlah apapun sepanjang anggaran saya memenuhi dan saya memperoleh kepuasan maksimum “ .Prinsip dasar konsumsi dalam pandangan islam adalah anugerah – anugerah Allah itu semua milik manusia dan suasana yang menyebabkan sebagian diantara anugerah – anugerah itu berada ditangan orang-orang tertentu tidak berarti bahwa mereka dapat memanfaatkan anugerah-anugerah itu untuk mereka sendiri, sedangkan orang lain tidak memiliki bagiannya sehingga banyak diantara anugerah – anugerah yang diberikan Allah kepada umat manusia itu masih berhak mereka miliki walaupun mereka tidak memperolehnya. Dalam fondasi teori perilaku konsumsi islam mempunyai 3 prinsip, yaitu : keyakinan akan hari kiamat dan kehidupan akhirat, konsep sukses, dan fungsi dan kedudukan harta.Keyakinan akan hari kiamat akan membawa efek mendasar pada perilaku konsumsi, yaitu : - Pilihan jenis konsumsi Diorientasikan pada dua bagian yaitu langsung dikonsumsi untuk kepentingan dunia dan untuk kepentingan akhirat. - Jumlah jenis pilihan kemungkinan menjadi lebih banyak, sebab mencakup jenis konsumsi untuk kepentingan akhirat. c. Konsep Maslahah Dalam Perilaku Konsumen Islami Dalam pandangan Islam kepuasan didasarkan pada suatu konsep yang disebut dengan maslahah. Imam Shatibi menggunakan istilah 'maslahah', yang maknanya lebih luas dari sekadar utility atau kepuasan dalam terminologi ekonomi konvensional. Menurut Imam Shatibi, maslahah adalah sifat atau kemampuan barang dan jasa yang mendukung elemen-elemen dan tujuan dasar dari kehidupan manusia di muka bumi ini. Ada lima elemen dasar menurut beliau, yakni: kehidupan atau jiwa (al-nafs), properti atau harta benda (al mal), keyakinan (al-din), intelektual (al-aql), dan keluarga atau keturunan (al-nasl). Semua barang dan jasa yang mendukung tercapainya dan terpeliharanya kelima elemen tersebut di atas pada setiap individu, itulah yang disebut maslahah. Kegiatan-kegiatan ekonomi meliputi produksi, konsumsi dan pertukaran yang menyangkut maslahah tersebut harus dikerjakan sebagai suatu ‘religious duty‘ atau ibadah. Tujuannya bukan hanya kepuasan di dunia tapi juga kesejahteraan di akhirat. Semua aktivitas tersebut, yang memiliki maslahah bagi umat manusia, disebut ‘needs’ atau kebutuhan. Dan semua kebutuhan ini harus dipenuhi. Mencukupi kebutuhan – dan bukan memenuhi kepuasan/keinginan – adalah tujuan dari aktivitas ekonomi Islami, dan usaha pencapaian tujuan itu adalah salah satu kewajiban dalam beragama. Adapun sifat-sifat maslahah sebagai berikut: 1. Maslahah bersifat subyektif dalam arti bahwa setiap individu menjadi hakim bagi masing-masing dalam menentukan apakah suatu perbuatan merupakan suatu maslahah atau bukan bagi dirinya. Namun, berbeda dengan konsep utility, kriteria maslahah telah ditetapkan oleh syariah dan sifatnya mengikat bagi semua individu. 2. Maslahah orang per seorang akan konsisten dengan maslahah orang banyak. Konsep ini sangat berbeda dengan konsep Pareto Optimum, yaitu keadaan optimal di mana seseorang tidak dapat meningkatkan tingkat kepuasan atau kesejahteraannya tanpa menyebabkan penurunan kepuasan atau kesejahteraan orang lain. 3. Konsep maslahah mendasari semua aktivitas ekonomi dalam masyarakat, baik itu produksi, konsumsi, maupun dalam pertukaran dan distribusi. Berdasarkan kelima elemen di atas,maslahah dapat dibagi dua jenis: pertama, maslahah terhadap elemen-elemen yang menyangkut kehidupan dunia dan akhirat, dan kedua: maslahah terhadap elemen-elemen yang menyangkut hanya kehidupan akhirat. Dengan demikian seorang individu Islam akan memiliki dua jenis pilihan: 1. Berapa bagian pendapatannya yang akan dialokasikan untuk maslahah jenis pertama dan berapa untuk maslahah jenis kedua. 2. Bagaimana memilih di dalam maslahah jenis pertama: berapa bagian pendapatannya yang akan dialokasikan untuk memenuhi kebutuhan kehidupan dunia (dalam rangka mencapai ‘kepuasan’ di akhirat) dan berapa bagian untuk kebutuhan akhirat. Pada tingkat pendapatan tertentu, konsumen Islam, karena memiliki alokasi untuk hal-hal yang menyangkut akhirat, akan mengkonsumsi barang lebih sedikit daripada non-muslim. Hal yang membatasinya adalah konsep maslahah tersebut di atas. Tidak semua barang/jasa yang memberikan kepuasan/utility mengandung maslahah di dalamnya, sehingga tidak semua barang/jasa dapat dan layak dikonsumsi oleh umat Islam. Dalam membandingkan konsep ‘kepuasan’ dengan ‘pemenuhan kebutuhan’ (yang terkandung di dalamnya maslahah), kita perlu membandingkan tingkatan-tingkatan tujuan hukum syara’ yakni antara daruriyyah, tahsiniyyah dan hajiyyah. Penjelasan dari masing-masing tingkatan itu sebagai berikut: 1. Daruriyyah: Tujuan daruriyyah merupakan tujuan yang harus ada dan mendasar bagi penciptaan kesejahteraan di dunia dan akhirat, yaitu jiwa, keyakinan atau agama, akal/intelektual, keturunan dan keluarga serta harta benda. Jika tujuan daruriyyah diabaikan, maka tidak akan ada kedamaian, yang timbul adalah kerusakan (fasad) di dunia dan kerugian yang nyata di akhirat. 2. Hajiyyah: Syari’ah bertujuan memudahkan kehidupan dan menghilangkan kesempitan. Hukum syara’ dalam kategori ini tidak dimaksudkan untuk memelihara lima hal pokok tadi melainkan menghilangkan kesempitan dan berhati-hati terhadap lima hal pokok tersebut. 3. Tahsiniyyah: syariah menghendaki kehidupan yang indah dan nyaman di dalamnya. Terdapat beberapa provisi dalam syariah yang dimaksudkan untuk mencapai pemanfaatan yang lebih baik, keindahan dan simplifikasi dari daruriyyah dan hajiyyah. Misalnya dibolehkannya memakai baju yang nyaman dan indah. . Prinsip-Prinsip Konsumsi d. prinsip – prinsip konsumsi. Menurut Abdul Mannan, dalam melakukan konsumsi terdapat lima prinsip dasar, yaitu: 1. Prinsip Keadilan Prinsip ini mengandung arti ganda mengenai mencari rizki yang halal dan tidak dilarang hukum. Artinya, sesuatu yang dikonsumsi itu didapatkan secara halal dan tidak bertentangan dengan hukum. Berkonsumsi tidak boleh menimbulkan kedzaliman, berada dalam koridor aturan atau hukum agama, serta menjunjung tinggi kepantasan atau kebaikan. Islam memiliki berbagai ketentuan tentang benda ekonomi yang boleh dikonsumsi dan yang tidak boleh dikonsumsi. “Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi” (Qs al-Baqarah,2 : 169). Keadilan yang dimaksud adalah mengkonsumsi sesuatu yang halal (tidak haram) dan baik (tidak membahayakan tubuh). Kelonggaran diberikan bagi orang yang terpaksa, dan bagi orang yang suatu ketika tidak mempunyai makanan untuk dimakan. Ia boleh memakan makanan yang terlarang itu sekedar yang dianggap perlu untuk kebutuhannya ketika itu saja. 2. Prinsip Kebersihan Bersih dalam arti sempit adalah bebas dari kotoran atau penyakit yang dapat merusak fisik dan mental manusia, misalnya: makanan harus baik dan cocok untuk dimakan, tidak kotor ataupun menjijikkan sehingga merusak selera. Sementara dalam arti luas adalah bebas dari segala sesuatu yang diberkahi Allah. Tentu saja benda yang dikonsumsi memiliki manfaat bukan kemubaziran atau bahkan merusak. “Makanan diberkahi jika kita mencuci tangan sebelum dan setelah memakannya” (HR Tarmidzi). Prinsip kebersihan ini bermakna makanan yang dimakan harus baik, tidak kotor dan menjijikkan sehingga merusak selera. Nabi juga mengajarkan agar tidak meniup makanan: ”Bila salah seorang dari kalian minum, janganlah meniup ke dalam gelas” (HR Bukhari). 3. Prinsip Kesederhanaan Sikap berlebih-lebihan (israf) sangat dibenci oleh Allah dan merupakan pangkal dari berbagai kerusakan di muka bumi. Sikap berlebih-lebihan ini mengandung makna melebihi dari kebutuhan yang wajar dan cenderung memperturutkan hawa nafsu atau sebaliknya terlampau kikir sehingga justru menyiksa diri sendiri. Islam menghendaki suatu kuantitas dan kualitas konsumsi yang wajar bagi kebutuhan manusia sehingga tercipta pola konsumsi yang efesien dan efektif secara individual maupun sosial. “Makan dan minumlah, tapi jangan berlebihan; Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan” (Qs al-A’raf, 7: 31). Arti penting ayat-ayat ini adalah bahwa kurang makan dapat mempengaruhi jiwa dan tubuh, demikian pula bila perut diisi dengan berlebih-lebihan tentu akan berpengaruh pada perut. 4. Prinsip Kemurahan hati. Allah dengan kemurahan hati-Nya menyediakan makanan dan minuman untuk manusia (Qs al-Maidah, 5: 96). Maka sifat konsumsi manusia juga harus dilandasi dengan kemurahan hati. Maksudnya, jika memang masih banyak orang yang kekurangan makanan dan minuman maka hendaklah kita sisihkan makanan yang ada pada kita, kemudian kita berikan kepada mereka yang sangat membutuhkannya. Dengan mentaati ajaran Islam maka tidak ada bahaya atau dosa ketika mengkonsumsi benda-benda ekonomi yang halal yang disediakan Allah karena kemurahan-Nya. Selama konsumsi ini merupakan upaya pemenuhan kebutuhan yang membawa kemanfaatan bagi kehidupan dan peran manusia untuk meningkatkan ketaqwaan kepada Allah maka Allah elah memberikan anugrah-Nya bagi manusia. 5. Prinsip Moralitas. Pada akhirnya konsumsi seorang muslim secara keseluruhan harus dibingkai oleh moralitas yang dikandung dalam Islam sehingga tidak semata – mata memenuhi segala kebutuhan. Allah memberikan makanan dan minuman untuk keberlangsungan hidup umat manusia agar dapat meningkatkan nilai-nilai moral dan spiritual. Seorang muslim diajarkan untuk menyebut nama Allah sebelum makan dan menyatakan terimakasih setelah makan. e. perbedaan antara teori konsumsi konvensional dengan teori konsumsi islami. - Perbedaan kebutuhan dan keinginan Agama islam menolak perilaku manusia untuk selalu memenuhi segala keinginannya.Dalam pemahaman teori konvensional disebutkan yang menjadi penggerak dasar konsumsi adalah keinginan sehingga tercapailah kepuasan maksimum.Berbeda dengan pandangan islam bahwa yang menjadi penggerak dasar konsumsi adalah motif kebutuhan untuk mencapai manfaat yang maksimum. - Perbedaan maslahah dan utility. Maslahah individu akan relative konsisten dedngan maslahah social, sementara utilitas individusanagat mungkin berbeda dengan utilitas social.Hal ini terjadi karena dasar penentuannya yang lebih obyektif sehingga lebih mudah diperbandingkan, dianalisi,dan disesuaikan antara satu orang dengan orang lain, antar individu dan social. Jika maslahah dijadikan tujuandari seluruh pelaku ekonomi yaitu produsen, konsumen dan distributor, maka arah pembangunan ekonomi akan menuju pada satu titik yang sama yaitu peningkattan kesejahteraan hidup ini akan berbeda dengan utilitas, dimana konsumen akan mengukurnya dari pemenuhan keinginannya, produsen dan distributor mengedepankan keuntungan. BAB III PENUTUP A. SIMPULAN Dari pembahasan diatas, penyusun dapat menyimpulkan bahwa agama islam merupakan agama yang komprehensif tidak hanya mengatur urusan akidah saja namun juga dibidang syaria. Begitu pula masalah konsumsi yang dilakukan kita dalm sehari – hari. Tujuan konsumsi seorang muslim pada hakekatnya adalah sebagai sarana penolong untuk beribadah kepada Allah SWT. Mengkonsumsi sesuatu dengan niat untuk meningkatkan stamina dalam ketaatan pengabdian kepada Allah akan menjadikan konsumsi itu bernilai ibadah yang dengannya manusia mendapatkan pahala.Dalam berkonsumsi haruslah memegang teguh eberapa prinsip konsumsi yang diantaranya, prinsip keadilan, kebersihan, kesederhanaan, kemurahan hati,dan moralitas. Konsumsi ekonomi konvensional berbeda sekali dengan konsumsi islami.Konsumsi islami tidak hanya mengedepankan aspek kepuasan didunia saja tetapi juga memikirkan kepuasan alam akhirat. Bagi kaum muslimin kehidupan akhirat merupakan puncak tujuan dari segala tujuan yang ada didunia ini. B. SARAN Saran penyusun ditujukan pada diri kita semua selaku pemeluk ajaran islam. Ajaran islam mengatur seluruh aspek kehidupan, dalam mengkonsumsi suatu barang hendaknya kita berpedoman pada al-Qur’an dan as-Sunnah. Dalam berkonsumsi kita harus mengetahui manfaat dan keberkahan yang dihasilkan oleh barang yang kita konsumsi tersebut, janganlah kita menuruti semua keinginan kita karena keinginan kita terbagi menjadi dua hal yaitu keinginan yang baik dan keinginan yang buruk. DAFTAR PUSTAKA - Al-Haritsi, Jaribah bin Ahmad. Fikih Ekonomi Umar bin Al-Khathab. Jakarta: Khalifa (Pustaka Al-Kautsar Group), 2006. - Anto, Hendrie. Pengantar Ekonomi Mikro Islam,Yogyakarta: Ekonosia, 2003. - Http://painoalganteng.blogspot.com/2011/05/teori-konsumsi-islami.

makalah eyd


BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Setiap kegiatan manusia dalam menjalani aktifitasnya dalam kehidupan bermasyarakat yang berbudaya tidak terlepas dari peranan bahasa. Bahasa mempunyai peranan yang sangat penting dalam berkomunikasi, agar segala sesuatu yang disampaikan pemakai bahasa dapat dimengerti oleh penerimanya. Dalam menggunakan bahasa, dibutuhkan kaidah-kaidah mengenai penggunaan tata bahasa yang baik dan benar.Karena bahasa yang baik dan benar menjadikan bahasa tersebut lebih bermutu yang akan dijadikan oleh masyarakat sebagai pedoman dalam melakukan komunikasi, terlebih dalam situasi formal. Faktanya masih banyak pemakai bahasa yang belum menyadari bahwa bahasa yang digunakan masih terdapat beberapa kesalahan. Dalam media cetak, seperti surat kabar/koran masih banyak dijumpai kesalahan-kesalahan penggunaan tata bahasa Indonesia yang tidak sesuai dengan kaidah-kaidah EYD yang berlaku saat ini. Hal itu mencerminkan para wartawan yang membuat tulisan tersebut kurang memperhatikan kaidah-kaidah penulisan yang benar.Wacana dalam media cetak /surat kabar dibaca oleh hampir seluruh lapisan masyarakat Indonesia, oleh sebab itu bahasa yang baik dan benar sesuai kaidah EYD hendaknya diterapkan sebaik mungkin. Kesalahan-kesalahan ejaan yang banyak kita lakukan dalam menuliskan bahasa kita, memang kesalahan umum yang pernah dilakukan siapa saja diantara kita. Namun jika kita mengakui bahwa bahasa Indonesia adalah bahasa nasional dan bahasa negara, kita harus berusaha menggunakannya sebaik mungkin. B. Rumusan Masalah Mengkaji dari latar belakang penulisan makalah maka rumusan masalah sebagai berikut: 1. Bagaimana kesalahan pemenggalan kata dan unsur serapan pada berita yang berjudul Gelar Aksi Gaya Hidup Ramah Lingkungan yang dimuat dalam koran Kedaulatan Rakyat? 2. Bagaimana kesalahan pemakaian tanda baca, gabungan kata, dan unsur serapan pada berita yang berjudul UN Diikuti 9 Siswa Berkebutuhan Khusus yang dimuat dalam koran Kedaulatan Rakyat? 3. Bagaimana kesalahan pemenggalan kata pada berita yang berjudul Deklarasikan Likra Warga Tolak Semen yang dimuat dalam koran Jawa Tengah? C. Tujuan Mengkaji dari latar belakang masalah dan rumusan masalah maka tujuan penulisan makalah ini yaitu memahami konsep EYD sesuai aturan yang benar dan dalam prakteknya aturan EYD tersebut dapat digunakan dalam keseharian masyarakat sehingga proses pengggunaan tata bahasa Indonesia dapat digunakan secara baik dan benar BAB II LANDASAN TEORI Ejaan adalah seperangkat aturan atau kaidah pelambangan bunyi bahasa, pemisahan, penggabungan, dan penulisannya dalam suatu bahasa. Batasan tersebut menunjukkan pengartian kata ejaan berbeda dengan kata mengeja. Mengeja adalah kegiatan melafalkan huruf, suku kata, atau kata, sedangkan ejaan adalah suatu system aturan yang jauh lebih luas dari sekadar masalah pelafalan. Ejaan mengatur keseluruhan cara menuliskan bahasa dengan menggunakan huruf, kata, dan tanda baca sebagai sarananya. Ejaan merupakan kaidah yang harus dipatuhi oleh pemakai bahasa demi keteraturan dan keseragaman bentuk, terutama dalam bahasa tulis. Keteraturan bentuk akan berimplikasi pada ketepatan dan kejelasan makna. Ejaa yang berlaku sekarang dinamakan Ejaan yang Disempurnakan (EYD). EYD yang resmi mulai diberlakukan pada tanggal 16 Agustus 1972 ini memang merupakan upaya penyempurnaan ejaan yang sudah dipakai selama dua puluh lima tahun sebelumnya yang dikenal dengan nama Ejaan Republik atau Ejaan Soewandi (Menteri PP dan K Republik Indonesia pada saat ejaan itu diresmikan pada tahun 1947). Sebelum Ejaan Soewandi telah ada ejaan yang merupakan ejaan pertama bahasa Indonesia, yaitu Ejaan van Ophuijsen (nama seorang guru besar Belanda yang juga pemerhati bahasa) yang diberlakukan pada tahun 1901 oleh pemerintah Belanda yang menjajah Indonesia pada masa itu. Ejaan van Ophuijsen tidak berlaku lagi pada tahun 1947. Untuk sekedar memperoleh gambaran tentang ejaan yang pernah berlaku pada masa lalu itu dan sekaligus dapat membandingkannya dengan ejaan sekarang, perhatikan pemakaian huruf dan kata-kata yang ditulis dengan ketiga macam ejaan itu seperti berikut. PERUBAHAN HURUF DALAM TIGA EJAAN BAHASA INDONESIA Ejaan Van Ophuijsen (1901-1947) Ejaan Republik (Ejaan Soewandi) (1947-1972) Ejaan yang Disempurnakan (EYD) (mulai 16 Agustus 1972) Khoesoes Djoem’at Pajoeng Chusus Djum’at pajung khusus Jumat payung Ruang lingkup EYD mencangkupi lima aspek, yaitu (1) pemakaian huruf, (2) penulisan huruf, (3) penulisan kata, (4) penulisan unsur serapan, dan (5) pemakaian tanda baca. 1. Pemakaian Huruf a. Huruf abjad Abjad bahasa Indonesia menggunakan 26 huruf, yaitu sebagai berikut (perhatikan bunyi pelafalannya). Huruf Dibaca Huruf Dibaca Huruf Dibaca A a B b C c D d E e F f G g H h I i A be ce de e ef ge ha i J j K k L l M m N n O o P p Q q R r Je ka el em en o pe ki er S s T t U u V v W w X x Y y Z z Es te u ve we eks ye zet b. Huruf vocal Huruf yang melambangkan vokal dalam bahasa Indonesia terdiri atas huruf a, e, i, o, dan u. Huruf Vokal Contoh pemakaian dalam kata Di awal Di tengah Di akhir A e i o u Api enak itu oleh ulang Padi petak simpan kota bumi Lusa sore murni radio ibu c. Huruf diftong Di dalam bahasa Indonesia terdapat diftong yang dilambangkan dengan ai, au, dan oi. Huruf Diftong Contoh pemakaian dalam kata Di awal Di tengah Di akhir Ai au oi - aula - - saudara boikot Pandai harimau amboi d. Gabungan huruf konsonan Di dalam bahasa Indonesia terdapat empat gabungan huruf yang melambangkan konsonan, yaitu : kh, ng, ny, dan sy.Masing-masing melambangkan satu bunyi konsonan. Gabungan huruf konsonan Contoh pemakaian dalam kata Di awal Di tengah Di akhir Kh ng ny sy khusus ngilu nyata syarat akhir bangun hanyut isyarat Tarikh senang - Arasy e. Pemenggalan kata Pemenggalan kata pada dasarnya sebagai berikut: Pemenggalan yang salah Pemenggalan yang benar Pu-la-u Kaw-an A-pril Hang-at Per-bu-ru-han Pu-lau Ka-wan Ap-ril Ha-ngat Per-bu-ruh-an 2. Penulisan Huruf Dua hal yang harus diperhatikan dalam penulisan huruf berdasarkan EYD, yaitu (1) penulisan huruf besar, dan (2) penulisan huruf miring. Lebih jelasnya dapat dilihat pada pembahasan berikut : a. Penulisan huruf besar (kapital) Kaidah penulisan huruf besar dapat digunakan dalam beberapa hal, yaitu: 1) Digunakan sebagai huruf pertama kata pada awal kalimat. Misalnya: Siapa yang datang tadi malam? Kami sudah mengerjakan tugas bahasa Indonesia. 2) Digunakan sebagai huruf pertama petikan langsung. Misalnya: Ayah bertanya, “Kapan kita ke Taman Safari?”. “Kemarin engkau terlambat”, kata ketua kelas. 3) Digunakan sebagai huruf pertama dalam ungkapan yang berhubungan dengan nama Tuhan, kata ganti Tuhan, dan nama kitab suci. Misalnya: Allah akan menunjukkan jalan yang benar kepada hamba-Nya. Terima kasih atas bimbingan-Mu ya Allah. 4) Digunakan sebagai huruf pertama nama gelar kehormatan , keturunan, keagamaan yang diikuti nama orang. Misalnya: Raja Gowa adalah Sultan Hasanuddin. Kita adalah pengikut Nabi Muhammad saw. 5) Digunakan sebagai huruf pertama unsur nama jabatan dan pangkat yang diikuti nama orang, pengganti nama orang tertentu, nama instansi, dan nama tempat. Misalnya: Presiden Sukarno memberi bantuan buku. Dia diangkat menjadi Sekretaris Jenderal Depdiknas. 6) Digunakan sebagai huruf pertama unsur-unsur nama orang. Misalnya: Hasbi Ega Gozhali Julivia Sabrina Inayah 7) Digunakan sebagai huruf pertama nama bangsa, suku bangsa, dan nama bahasa. Misalnya: Dalam hal ini bangsa Indonesia yang…. ...tempat bermukim suku Melayu sejak…. 8) Digunakan sebagai huruf pertama nama tahun, bulan, hari, hari raya, dan peristiwa sejarah. Misalnya: bulan Maret Perang Diponegoro 9) Digunakan sebagai huruf pertama nama khas dalam geografi. Misalnya: Teluk Jakarta Gunung Semeru 10) Digunakan sebagai huruf pertama semua unsur nama negara, lembaga pemerintah, ketatanegaraan, dan nama dokumen resmi, Misalnya : Majelis Permusyawaratan Rakyat Undang-Undang Dasar 1945 11) Digunakan sebagai huruf pertama setiap unsur bentuk ulang sempurna yang terdapat pada nama badan/lembaga. Misalnya: Perserikatan Bangsa-Bangsa Yayasan Ilmu-Ilmu Sosial 12) Digunakan sebagai huruf pertama semua kata dalam penulisan nama buku, majalah, surat kabar, dan judul karangan, kecuali kata seperti di, ke, dari, dan, dalam, yang, untuk yang tidak terletak pada posisi awal. Misalnya: Bacalah majalah Bahasa dan Sastra. Dia agen surat kabar Suara Merdeka. 13) Digunakan sebagai huruf pertama kata penunjuk hubungan kekerabatan seperti bapak, ibu, saudara, kakak, adik, paman, bapak, ibu, saudara, kakak, adik, paman, yang dipakai dalam penyapaan dan pengacuan. Misalnya: Surat Saudara sudah saya terima. Para ibu mengunjungi Ibu Linda 14) Digunakan sebagai huruf pertama unsur singkatan nama gelar, pangkat dan sapaan. Misalnya : Dr. : doctor M.M. : magister manajemen 15) Digunakan sebagai huruf pertama kata ganti Anda. Misalnya : Sudahkah Anda sholat? Usulan Anda telah kami terima. b. Penulisan huruf miring Huruf miring digunakan untuk : 1) Menuliskan nama buku, majalah, dan surat kabar yang dikutip dalam karangan. Misalnya: Buku Negarakertagama karangan Prapanca. Majala Nova sedang dibaca. 2) Menegaskan atau mengkhususkan huruf, bagian kata, kata, dan kelompok kata. Misalnya: Huruf pertama kata Allah adalah a. Dia bukan menipu, tetapi ditipu. 3) Menuliskan kata nama ilmiah atau ungkapan asing. Misalnya: Politik devide et impera pernah merajalela di benua hitam itu. Nama ilmiah padi ialah Oriza sativa. 3. Penulisan Kata Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam penulisan kata, yaitu : a. Kata dasar Kata yang berupa kata dasar ditulis sebagai satu kesatuan. Misalnya: Kantor pos sangat ramai. Buku itu sudah saya beli. b. Kata turunan Kaidah yang harus diikuti dalam penulisan kata turunan, yaitu : 1) Imbuhan semuanya ditulis serangkai dengan kata dasarnya. Misalnya : membaca, ketertiban, terdengar dan memasak. 2) Awalan dan akhrian ditulis serangkai dengan kata yang langsung mengikuti atau mendahuluinya jika bentuk dasarnya berupa gabungan kata. Misalnya : bertepuk tangan, sebar luaskan. 3) Jika bentuk dasarnya berupa gabungan kata dan sekaligus mendapat awalan dan akhiran, kata itu ditulis serangkai. Misalnya : menandatangani, keanekaragaman. 4) Jika salah satu unsur gabungan kata hanya dipakai dalam kombinasi, gabungan kata itu ditulis serangkai. Misalnya : antarkota, mahaadil, subseksi, prakata. c. Bentuk ulang Bentuk ulang ditulis secara lengkap dengan menggunakan tanda hubung. Misalnya: anak-anak, buku-buku, berjalan-jalan, dibesar-besarkan, gerak-gerik d. Gabungan kata 1) Gabungan kata lazim disebut kata majemuk, termasuk istilah khusus, unsur-unsur ditulis terpisah. Misalnya : mata kulih, orang tua, rumah sakit, terima kasih 2) Gabungan kata, termasuk istilah khusus, yang menimbulkan kemungkinan salah pengertian dapat ditulis dengan tanda hubung untuk menegaskan pertalian unsur yang berkaitan. Misalnya : ibu-bapak, anak-istri saya, buku sejarah-baru 3) Gabungan kata berikut ditulis serangkai karena hubungannya sudah sangat padu sehingga tidak dirasakan lagi sebagai dua kata. Misalnya : daripada, bagaimana, barangkali, manakala, saputangan e. Kata ganti ku, kau, mu, dan nya Kata ganti ku dan kau sebagai bentuk singkat kata aku dan engkau, ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya. Misalnya: Bolehkah kuambil jeruk ini satu? Kalau mau, boleh kaubaca buku itu. f. Kata depan di, ke, dan dari Kata depan di, ke, dan dari ditulis terpisah dengan kata yang mengikutinya, kecuali pada gabungan kata yang dianggap padu sebagai satu kata, seperti kepada dan daripada. Misalnya : Jangan bermian di jalan. Saya pergi ke kampung halaman. Dewi baru pulang dari kampus. g. Kata sandang si dan sang Kata si dan sang ditulis terpisah dari kata yang mengikutinya. Misalnya: Salah Benar Sikecil sipemalu sangkancil si kecil si pemalu sang kancil h. Partikel 1) Partikel –lah, dan –kah ditulis serangkai dengan kata yang mendahuluinya. Misalnya : Bacalah buku itu baik-baik. Siapakah yang sedang menangis? 2) Partikel pun ditulis terpisah dari kata yang mendahuluinya kecuali yang dianggap sudah menyatu. Misalnya: Jika ayah pergi, ibu pun ikut pergi. Apa pun yang dikatakannya, aku tetap tak percaya. 3) Partikel per yang berarti ‘demi’, dan ‘tiap’ ditulis terpisah dari bagian kalimat yang mendahului atau mengikutinya. Misalnya: Mereka masuk ruang satu per satu. (‘satu demi satu’) Harga kain itu Rp 2.000,00 per meter. (‘tiap meter’) i. Singkatan dan akronim 1) Singkatan adalah nama bentuk yang dipendekkan yang terdiri atas satu kata atau lebih. Misalnya: Perseroan Terbatas disingkat PT dan lain-lain disingkat dll. 2) Akronim adalah singkatan yang berupa gabungan huruf awal kata, gabungan suku kata dari deret kata yang disingkat. Akronim dibaca dan diperlukan sebagai kata. Misalnya: KONI (Komite Olahraga Nasional Indonesia) Bappenas (Badan Perencanaan Pembangunan Nasional) j. Angka dan lambang bilangan Dalam bahasa Indonesia ada dua macam angka yang lazim digunakan , yaitu : (1) Angka Arab : 0, 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9, 10, dan (2) Angka Romawi : I, II, III, IV, V, VI, VII, VIII, IX, X. Lambang bilangan dengan huruf dilakukan sebagai berikut : 1) Bilangan utuh. Misalnya : 15 lima belas 2) Bilangan pecahan. Misalnya : 3/4 tiga perempat 3) Bilangan tingakt. Misalnya : Abad II Abad ke-2 4) Kata bilagan yang mendapat akhiran –an. Misalnya : tahun 50-an lima puluhan 5) Angka yang mneyatakan bilagnan bulat yang besar dapat dieja sebagian supaya mudah dibaca. Misalnya : Sekolah itu baru mendapat bantuan 210 juta rupiah. 6) Lambang bilangan letaknya pada awal kalimat ditulis dengan huruf. Kalau perlu diupayakan supaya tidak diletakkan di awal kalimat dengan mengubah struktur kalimatnya dan maknanya sama. Misalnya: Dua puluh lima siswa SMA tidak lulus. (benar) 55 siswa SMA 1 tidak lulus. (salah) 7) Lambang bilangan yang dapat dinyatakan dengan satu atau dua kata ditulis dengan huruf, kecuali beberapa dipakai secara berurutan seperti dalam perincian atau pemaparan. Misalnya: Amir sedang menonton pertunjukan itu selama dua kali. 4. Penulisan Unsur Serapan Dalam perkembangannya, bahasa Indonesia menyerap unsur dari berbagai bahasa lain baik dari bahasa daerah maupun dari bahasa asing seperti Sansekerta, Arab, Portugis, Belanda, atau Inggris. Berdasarkan taraf integrasinya, unsure pinjaman dalam bahasa Indonesia dapat dibagi atas dua golongan besar. Pertama, unsur yang belum sepenuhnya terserap ke dalam bahasa Indonesia, seperti reshuffle, shuttle cock, l’exploitation de l’homme par l’home. Unsur-unsur ini dipakai dalam konteks bahasa Indonesia, tetapi pengucapannya masih mengikuti cara asing. Kedua, unsur pinjaman yang pengucapan dan penulisannya disesuaikan dengan kaidah bahasa Indonesia. Dalam hal ini diusahakan agar ejaannya hanya dirubah seperlunya sehingga bentuk Indonesianya masih dapat dibandingkan dengan bentuk asalnya. Kaidah ejaan yang berlaku bagi unsure serapan itu antara lain: Bahasa Asing Bahasa Indonesia Haemoglobin Stratosfeer Contingent Ratio Exclusive Hemoglobin Stratosfer Kontingen Rasio Eksklusif 5. Pemakaian Tanda Baca a. Tanda titik (.) Penulisan tanda titik dipakai untuk: 1) Akhir kalimat yang bukan pertanyaan atau seruan. 2) Di belakang angka atau huruf pengkodean suatu judul bab dan subbab. 3) Memisahkan angka jam, menit, dan detik yang menunjukkan waktu. 4) Tidak dipakai untuk memisahkan bilangan ribuan atau kelipatannya yang tidak menunjukan jumlah. 5) D antara nama penulis, judul tulisan yang tidak berakhir dengan tanda tanya dan tanda seru, dan tempat terbit dalam daftar pustaka. 6) Memisahkan bilangan ribuan atau kelipatannya. 7) Tidak dipakai pada akhir judul, misalnya judul buku, karangan lain, kepala ilustrasi, atau tabel. 8) Tidak dipakai di belakang (1) alamat pengirim dan tanggal surat atau (2) nama dan alamat penerima surat. b. Tanda koma (,) Penulisan tanda koma dipakai untuk: 1) Di antara unsur-unsur dalam suatu perincian atau pembilangan. 2) Memisahkan kalimat setara yang satu dari kalimat setara berikutnya yang didahului oleh kata seperti tetapi atau melainkan. 3) Memisahkan anak kalimat atau induk kalimat jika anak kalimat itu mendahului induk kalimatnya. 4) Dibelakang kata atau ungkapan penghubung antarkalimat yang terdapat pada awal kalimat seperti (1) oleh karena itu, (2) jadi, (3) lagi pula, (4) meskipun begitu, dan (5) akan tetapi. 5) Memisahkan kata seperti: o, ya, wah, aduh, dan kasihan dari kata yang lain yang terdapat di dalam kalimat. 6) Memisahkan petikan langsung dari bagian lain dalam kalimat. 7) Di antara: (1) nama dan alamat, (2) bagina-bagian alamat, (3) tempat dan tanggal, (4) nama tempat dan wilayah atau negeri yang ditulis secara berurutan. 8) Di antara bagian-bagian dalam catatan kaki. 9) Di antara nama orang dan gelar akademik yang mengikutinya untuk membedakannya dari singkatan nama diri, keluarga, atau marga. 10) Mengapit keterangan tambahan yang sifatnya tidak membatasi. 11) Menghindari terjadinya salah baca di belakang keterangan yang terdapat pada awal kalimat. 12) Tidak dipakai untuk memisahkan petikan langsung dari bagian lain yang mengiringinya dalam kalimat jika petikan langsung itu berakhir dengan tanda tanya atau tanda seru. c. Tanda tanya ( ? ) Tanda tanya dipakai pada: 1) Akhir kalimat tanya. 2) Dipakai di dalam tanda kurung untuk menyatakan bagian kalimat yang diragukan atau kurang dapat dibuktikan kebenarannya. d. Tanda seru ( ! ) Tanda seru dugunakan sesudah ungkapan atau pertanyaan yang berupa seruan atau perintah yang menggambarkan kesungguhan, ketidakpercayaan, dan rasa emosi yang kuat. e. Tanda titik koma ( ; ) Tanda titik koma dipakai untuk: 1) Memisahkan bagian-bagian kalimat yang sejenis dan setara. 2) Pengganti kata penghubung untuk memisahkan kalimat setara di dalam kalimat majemuk. 3) Memisahkan unsure-unsur dalam kalimat kompleks yang tidak cukup dipisahkan dengan tanda koma demi memperjelas arti kalimat secara keseluruhan. f. Tanda titik dua ( : ) Tanda titik dua dipakai pada: 1) Akhir suatu pernyataan lengkap diikuti perincian. 2) Akhir suatu pertanyaan lengkap bila diikuti rangkaian atau pemerian. 3) Di dalam teks drama sesudah kata yang menunjukkan pelaku dalam percakapan . 4) Di antara jilid atau nomor dan halaman. 5) Di antara bab dan ayat dalam kitab suci. 6) Di antara judul dan anak judul suatu karangan. 7) Di antara nama kota dan penerbit buku acuan dalam karangan. g. Tanda elipsis (…) Tanda ini menggambarkan kalimat-kalimat yang terputus-putus dan menunjukkan bahwa dalam suatu petikan ada bagian yang dihilangkan. Jika yang dibuang itu di akhir kalimat, maka dipakai empat titik dengan titik terakhir diberi jarak atau loncatan. h. Tanda garis miring ( / ) Tanda garis miring dipakai: 1) Dalam nomor surat dan nomor pada alamat dan penandaan masa satu tahun yang terbagi dalam dua tahun takwin. 2) Sebagai pengganti kata atau dan tiap. i. Tanda penyingkat atau apostrof ( ‘ ) Tanda penyingkat menunjukkan penghilangan bagian kata. j. Tanda petik tunggal ( ‘…’ ) Tanda petik tunggal dipakai untuk: 1) Mengapit petikan yang tersusun di dalam petikan lain. 2) Mengapit terjemahan, makna, atau penjelasan kata atau ungkapan asing. k. Tanda petik ganda ( “…” ) Tanda petik dipakai untuk: 1) Mengapit kata atau istilah yang mempunyai arti khusus atau kurang dikenal. 2) Mengapit judul karangan, sajak, dan bab buku, apabila dipakai dalam kalimat. 3) Mengapit petikan langsung yang berasal dari pembicaraan, naskah, atau bahan tertulis lain. l. Tanda hubung (-) Tanda hubung dipakai untuk: 1) Menyambung suku-suku kata dasar yang terpisah oleh pergantian baris. 2) Menyambung awalan dengan bagian kata di belakangnya atau akhiran dengan bagian kata di depannya pada pergantian baris. 3) Menyambung unsur-unsur kata ulang. 4) Menyambung huruf kata yang dieja satu-satu ataupun bagian-bagian tanggal, bulan, dan tahun. 5) Memperjelas hubungan bagian kata atau ungkapan. 6) Merangkai (i) se- dengan kata berikutnya yang dimulai dengan huruf kapital, (ii) ke- dengan angka, (iii) angka dengan –an, (iv) singkatan huruf kapital dengan imbuhan atau kata, (v) nama jabatan rangkap. 7) Merangkai unsur bahasa Indonesia dengan unsure bahasa asing. m. Tanda pisah ( ) Tanda pisah dipakai untuk: 1) Membatasi penyisipan kata atau kalimat yang memberi penjelasan di luar bangun kalimat. 2) Menegaskan adanya keterangan aposisi atau keterangan yang lain sehingga kalimat menjadi lebih jelas. 3) Antara dua nama tempat atau tanggal dengan arti ‘sampai ke’ atau ‘sampai dengan’. n. Tanda kurung ((…)) Tanda kurung dipakai untuk: 1) Mengapit tambahan keterangan atau penjelasan. 2) Mengapit keterangan atau penjelasan yang bukan bagian integral pokok pembicaraan. 3) Mengapit huruf atau kata yang kehadirannya di dalam teks dapat dihilangkan. 4) Mengapit angka atau huruf yang merinci satu urutan keterangan. o. Tanda kurung siku ([…]) Tanda kurung siku dipakai untuk: 1) Mengapit huruf, kata, atau kelompok kata sebagai koreksi atau tambahan pada kalimat atau bagian kalimat yang ditulis orang lain. Tanda itu menyatakan bahwa kesalahan atau kekurangan itu memang terdapat di dalam naskah asli. 2) Mengapit keterangan dalam kalimat penjelas yang sudah tertanda kurung. BAB III PEMBAHASAN 1. Analisis kesalahan pemenggalan kata dan unsur serapan pada berita yang berjudul Gelar Aksi Gaya Hidup Ramah Lingkungan yang dimuat dalam Koran Suara Merdeka yaitu: a. Coordinator Eart Hour Jogja, Felix Kris Nugraha mengatakan gerakan ini harus dimulai dari diri sendiri. Dengan mengubah gaya hidup yang ramag lingkungan sekaligus memiliki kesadaran menghemat energi. “Gerakan ini kini telah diter-apkan di 32 kota di Indonesia. Dan Jogja telah memasuki ke tahun keempat,” ujarnya di Sheraton Mustika Yogyakarta and Spa, Sabtu (16/3). Analisis: Kesalahan pada pemenggalan kata yaitu: diter-apkan menjadi dite-rapkan b. Selanjutnya kampanye peduli kesehatan melalui program ‘Health Care’ pada 22 Maret 2013 dengan pengasapan-pemberantasan nyamuk atau fogging di sekitar hotel. Puncaknya 23 Maret 2013 akan digelar kegiatan seremonial yang akan menandai dimatikan dan dihidupkannya listrik selama satu jam. Sekaligus peluncuran lukisan 100 pelukis am-atir dari 5 benua yang dikepalai pelukis serba bisa Trimni Putra yang juga menjadi ‘gong’ dari peringatan Earth Hour 2013. Analisis:  Kesalahan pada unsur serapan seharusnya penulisannya dengan huruf miring yaitu: fogging menjadi fogging  Kesalahan pada pemenggalan kata: am-tir menjadi a-ma-tir 2. Analisis kesalahan pemakaian tanda baca, gabungan kata, dan unsur serapan pada berita yang berjudul UN Diikuti 9 Siswa Berkebutuhan Khusus yang dimuat dalam Koran Suara Merdeka yaitu: a. Dinas Pendidikan juga menjamin, soal UN tidak akan bocor dan pendistribusian diawasi secara ketat. Naskah soal didistribusikan ke Pokja dalam kondisi masih disegel pada H-1. Untuk SMA ada empat Pokja yakni SMA 1 Godean, SMA 1 Sleman, SMA 1 Kalasan dan SMA 2 Ngaglik. Sedangkan Pokja SMK yakni SMK 1 Godean, SMk 1 Kalasan, SMK 1 Depok, SMk 1 Tempel dan SMk 2 Depok. Selanjutnya distribusikan soal dari Pokja ke sekolah dilaksanakan pada hari H. Analisis: Kesalahan pada pemakaian tanda baca koma yaitu:  Untuk SMA ada empat Pokja yakni SMA 1 Godean, SMA 1 Sleman, SMA 1 Kalasan dan SMA 2 Ngaglik. Menjadi: Untuk SMA ada empat Pokja yakni SMA 1 Godean, SMA 1 Sleman, SMA 1 Kalasan, dan SMA 2 Ngaglik.  Sedangkan Pokja SMK yakni SMK 1 Godean, SMk 1 Kalasan, SMK 1 Depok, SMk 1 Tempel dan SMk 2 Depok. Menjadi: Sedangkan Pokja SMK yakni SMK 1 Godean, SMk 1 Kalasan, SMK 1 Depok, SMk 1 Tempel, dan SMk 2 Depok. b. Ketua Komisi D DPRD Kabupaten Sleman Sofyan S Darmawan meminta bagi peserta UN yang tuna netra dan low vision harus dapat sarana pendukung. Analisis:  Kesalahan pada penggabungan kata yaitu: tuna netra menjadi tunanetra  Kesalahan pada unsur serapan seharusnya huruf ditulis miring yaitu: low vision menjadi low vision. 3. Ratusan warga dari sejumlah kecamatan, terutama Tambakromo dan Kayen hadir dalam deklarasi Likra di lapan-gan Desa Karangawen, Kecamatan Tambakromo, kemarin. Dalam kesempatan itu juga hadir warga Tuban, Jawa Timur, Edy Toyyibi yang member testimony seputar kepahitan hidup masyarakat yang bermukim di dekat pabrik semen. Hal ini sekaligus menepis asumsi sejumlah kalangan, ger-akan penolakan pabrik semen belakangan ini hanya dilakukan dan dimotori warga Kecamatan Sukolilo. Analisis:  Kesalahan pada pemenggalan kata yaitu: lapan-gan menjadi lapa-ngan ger-akan menjadi gera-kan BAB IV PENUTUP A. Kesimpulan Berdasarkan paparan dan analisis data yang telah diuraiakan, maka hasil analisis dapat disimpulkan : 1). Media cetak masih melakukan beberapa kesalahan dalam menggunakan aturan EYD. 2). Beberapa bentuk kesalahan yang masih terjadi diantaranya adalah kesalahan pada pemenggalan kata, unsur serapan, pemakaian tanda baca, penggabungan kata. 3). Ada kemungkinan jumlah kesalahan akan lebih banyak muncul apabila analisis diperluas dan dilakukan lebih kritis. B. Saran Dalam kehidupan sehari-hari kita sebaiknya menggunakan bahasa yang baik dan benar sesuai dengan EYD bukan hanya sekedar tahu teori EYD namun tidak mau memprakteknya. Selain itu hasil analisis ini dapat digunakan sebagai acuan dalam menganalisis data-data lain, media cetak lain agar penulisan tata bahasa Indonesia sesuai EYD lebih bermutu. DAFTAR PUSTAKA Finoza, Lamuddin. 2008. Komposisi Bahasa Indonesia Untuk Mahasiswa Non Jurusan Bahasa. Jakarta : Diksi Insan Mulia. Waridah, Ernawati. 2008. EYD & Seputar Kebahasa-Indonesiaan. Jakarta. : KawanPustaka http://arerariena.worspress.com/2011/02/02/analisis-analisis kesalahan. LAMPIRAN

manajemen persediaan


BAB I PENDAHULUAN Perusahaan atau organisasi dalam memenuhi ketidakpastian permintaan dari waktu kewaktu memerlukan adanya persediaan agar kelancaran operasi bisnisnya tetap berjalan.Dalam sebuah pabrik (manufacturing) persediaan dapat berupa : persediaan bahan baku, bahan pembantu, barang dalam proses, barang jadi dan persediaan suku cadang. Selain untuk mengantisipasi ketidakpastian permintaan, perlunya persediaan bagi perusahaan maupun organisasi adalah untuk mengatasi ketidakpastian dari pasokan supplier dan adanya unsur ketidakpastian tenggang waktu pemesanan. Untuk mengatasi persoalan ketidakpastian tersebut perusahaan atau organisasi harus melakukan manajemen pengendalian persediaan yang tujuannya adalah untuk memberikan pelayanan terbaik pada pelanggan, mengantisipasi kemungkinan terjadinya kekurangan persediaan, memperlancar proses produksi dan untuk menghadapi fluktuasi harga. Dalam memperoleh laba yang maksimal, dapat diperoleh dengan meminimalkan biaya yang berkaitan dengan persediaan. Namun meminimalkan biaya persiapan dapat dicapai dengan memesan atau memproduksi dalam jumlah yang kecil, sedangkan untuk meminimalkan biaya pemesanan dapat dicapai dengan melakukan pemesanan, persediaan dalam jumlah yang relatif besar sehingga mendorong jumlah persediaan yang besar. BAB II ISI Pengendalian persediaan (inventory) merupakan pengumpulan atau penyimpanan komoditas yang akan digunakan untuk memenuhi permintaan dari waktu ke waktu (Aminudin : 2005). Biaya – biaya dalam keputusan persediaan : Terdapat 5 kategori biaya yang dikaitkan dengan keputusan persediaan (Zulian Yamit : 2011) yaitu : Biaya pemesanan (order cost) Biaya penyimpanan (carrying cost atau holding cost) Biaya kekurangan persediaan (stockout cost) Biaya yang dikaitkan dengan kapasitas Biaya bahan atau barang itu sendiri Dalam persoalan persediaan dikenal dengan beberapa model. Masing-masing model mempunyai karakteristik tersendiri sesuai parameter persoalan. Pada dasarnya model persediaan di bagi menjadi dua kelompok yaitu model deterministrik dan model stokastik. Model deterministrik parameter -parameternya di asumsikan diketahui dengan pasti, sedangkan model stokastik nilai-nilai parameternya tidak diketahui dengan pasti, berupa nilai-nilai acak. MODEL ECONOMIC ORDER QUANTITY (EOQ) Konsep EOQ digunakan untuk menjawab pertanyaan “ berapa jumlah yang harus di pesan” Model EOQ klasik Asumsi-asumsi dasar dari model ini adalah : Barang yang disimpan dan di pesan hanya barang sejenis (homogen) Permintaan per periode diketahui dan konstan Ordering cost constan Holding cost berdasarkan rata-rata persediaan Harga per unit barang konstan Barang yang dipesan tersedia (tidak diijinkan back order) Sedangkan parameter-parameter yang digunakan adalah : k = ordering cost per pemesanan A = jumlah barang yang dibutuhkan dalam satu periode (missal 1 tahun) c = procurement cost per unit barang yang dipesan h = holding cost per unit nilai persediaan T = waktu antara pemesanan Total annual cost = ordering cost + holding cost + Procuremen cost Gb.1.1 Frekuensi pemesanan sering dilakukan 1 tahun Q - rata-rata persediaan Waktu Gb.1.2 Frekuensi pemesanan jarang dilakukan 1 tahun Q Rata-rata persediaan Waktu Menghitung EOQ secara matematik Notasi yang digunakan dalam persamaan matematik adalah : TAC = total biaya persediaan tahunan TOC = total biaya pesan TCC = total biaya simpan R = jumlah pembelian (permintaan) selama satu periode C = biaya simpan tahunan dalam rupian S = biaya setiap kali pemesanan Q = kuantitas pemesanan (unit/orde) Q* = jumlah pesanan optimum (EOQ) TC = total biaya persediaan minimum TAC = TOC + TCC Dengan menggunakan notasi diatas, total biaya pesan tahunan (TOC) dapat ditulis dalam persamaan sebagai berikut : TOC = ( R/Q ) S Frekuensi pemesanan/ tahun = R/Q Rata –rata persediaan dapat dihitung dengan Q/2. Sehingga total biaya simpan tahunan (TOC) dapat ditulis dalm persamaan : TOC = ( Q/2 ) C Rata-rata persediaan = ( Q/2 ) Total biaya tahunan (TAC) = TOC = ( Q/C ) C + ( R/Q ) S EOQ atau Q* akan tercapai pada saat TOC = TCC. Sehingga model matematik dari EOQ dapat dicari dengan cara : TCC = TOC ( Q/2 ) C = ( R/Q ) S QC/2 = RS/Q Q2C = 2RS Q2 = 2RS/C EOQ = Q* = √2RC C KONSEP ABC DALAM KLASIFIKASI PERSEDIAAN Sistem ABC merupakan prosedur sederhana yang dapat dipergunakan untuk mengisolasi barang-barnag yang memerlukan perhatian khusus dalam hal pengendalian sediaan. (Hamdy A Taha). 1997 Barang barang kelompok A mewakili sejumlah kecil barang-barang yang mahal dan harus dikenakan pengendalian sediaan yang ketat. Barang-barang kelompok B berada diurutan berikutnya dimana pengendalian sediaan yang cukup ketat dapat diberikan.Yang terkhir barang-barang kelompok C harus diberikan prioritas terendah dalam penerapan setiap bentuk pengendalian sediaan. Biasanya pesanan dilakukan untuk persediaan enam bulan sampai dengan satu tahun. Sistem ABC tidak hanya digunakan untuk pengawasan persediaan, tetapi dapat juga untuk menentukan tingkat prioritas pelayanan pada langganan dan menentukan tingkat persediaan pengaman Klasifikasi dalam system ABC : Item yang memiliki nilai tinggi berkisar antara 40% - 80% dari total nilai persediaan. Tetapi memiliki volume persediaan antara 7% - 30%. Item yang memiliki nilai tinggi berkisar antara 80% - 90% dari total nilai persediaan. Tetapi memiliki volume persediaan antara 30% - 65%. Item yang memiliki nilai rendah tetapi memiliki volume persediaan antara 70% - 100%. % tase dari total nilai Rp 100 95 80 A B C 0 20 50 100 % tase Rp Gb.1.3 klasifikasi persediaan system ABC BAB III PENUTUP Kesimpulan Perlunya persediaan bagi perusahaan maupun organisasi adalah untuk mengatasi ketidakpastian dari pasokan supplier dan adanya unsur ketidakpastian tenggang waktu pemesanan dan memenuhi ketidakpastian permintaan. Model EOQ digunakan untuk menentukan kuantitas pesanan persediaan yang meminimumkan biaya langsung penyimpanan persediaan an biaya pemesanan persediaan. Kategori biaya yang relevan untuk dipertimbangkan dalam model EOQ adalah biaya pesan dan biaya simpan. Sistem ABC tidak hanya digunakan untuk pengawasan persediaan, tetapi dapat juga untuk menentukan tingkat prioritas pelayanan pada langganan dan menentukan tingkat persediaan pengaman. Saran Setelah pemaparan materi diatas, mahasiswa di harapkan mampu memahami konsep ABC dan dapat menghitung EOQ secara matematik

Senin, 16 September 2013

analisis desain pekerjaan

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Keberhasilan suatu organisasi dipengaruhi oleh kinerja karyawannya atau hasil kerja yang dicapai oleh seorang karyawan dalam melakukan tugas-tugas dan tanggung jawab yang diberikan kepadanya. Saat ini, perusahaan dituntut untuk mencapai tingkat tujuannya yang telah di rencanakan sebelumnya secara efektif dan efisien. Lembaga bank merupakan lembaga yang sangat berperan dalam pembangunan di negeri ini. Di dalam sebuah lembaga organisasi / perusahaan, yang paling utama adalah sumber daya manusianya, karena pada hakikatnya manusia itu tidak dapat tergantikan, jika barang mungkin dapat digantikan, tetapi manusia adalah actor yang paling utama dalam perusahaan. Dalam rangka meningkatkan moral, motivasi dan kinerja dari karyawan, organisasi perlu memberi perhatian pada karyawannya. Bentuk dari perhatian tersebut dapat berupa desain pekerjaan atau redesain pekerjaan yang dapat meningkatkan kinerja karyawan. Motivasi dan moral kerja karyawan yang menurun di sebabkan oleh beberapa faktor yang mempegaruhinya, diantaranya kejenuhan dalam pekerjaannya, karyawan merasa pekerjaannya kurang berarti, pekerjaan yang dilakukan adalah pekerjaan yang biasa-biasa saja, tertalu mudah, sehingga perlu penataan ulang terhadap pekerjaan karyawan tersebut. Kepuasan kerja merupakan evaluasi yang menggambarkan seseorang atas perasaan sikapnya senang atau tidak, puas atau tidak yang dapat mempengaruhi kinerja karyawan. B. Rumusan Masalah Mengkaji dari latar belakang penulisan penelitian, maka penyusun mengambil rumusan masalah sebagai berikut: 1. Bagaimanakah teknik desain ulang pekerjaan dalam menyikapi masalah penurunan moral kerja yang disebabkan kejenuhan kerja karyawan yang dilakukan pada PT Bank BRI Persero Cabang Kebumen Unit Ambal? 2. Bagaimanakah peranan faktor-faktor yang mempengaruhi desain pekerjaan terhadap pengambilan keputusan desain pekerjaan karyawan yang dilakukan pada PT Bank BRI Persero Cabang Kebumen Unit Ambal serta pengaruhnya terhadap motivasi kerja karyawannya? 3. Bagaimanakah kepuasan kerja yang dirasakan oleh karyawan terhadap Desain Pekerjaan yang dilakukan pada PT Bank BRI Persero Cabang Kebumen Unit Ambal? BAB II LANDASAN TEORI A. Pengertian Desain Pekerjaan Suatu pekerjaan sebelumnya harus dirancang atau dilakukan desain pekerjaan, hal ini dilakukan untuk memberikan efek positif bagi peningkatan produktivitas dan efisiesi baik pada pola kerja maupun dari segi pembiayaan tenaga kerja. Pengertian dari desain pekerjaan adalah merupakan fungsi penetapan kegiatan-kegiatan kerja seorang karyawan secara organisasional atau proses penentuan tugas-tugas yang harus dilaksanakan oleh pemegang jabatan, hak untuk mengatur pekerjaan tersebut,dan tanggung jawab dari satu paket pekerjaan. Di lain pihak desain pekerjaan dikatakan “job design is concerned with the way that task are combined to form complete job”.(Marihot Tua, 2005). Menurut Sunarto dan Sahedhy Noor (2003), pengertian desain pekerjaan (job desigin) adalah proses penentuan tugas-tugas yang akan dilaksanakan, metode yang digunakan untuk melaksanakan tugas-tugas ini dan bagaimana pekerjaan tersebut berkaitan dengan pekerjaan lainnya di daam organisasi. Dalam desain pekerjaan dilakukan pengorganisasian kerja kedalam tugas-tugas yang dibutuhkan untuk melaksanakan sebuah pekerjaan tertentu. Fokus desain pekerjaan bisa pada posisi individu atau kelompok kerja, yaitu : - Pekerjaan individual dapat diperkaya dengan mengelompokkan tugas-tugas ke dalam unit-unit kerja dasar. - Pendekatan yang berkaitan adalah mengkombinasikan beberapa tugas ke dalam satu pekerjaan - Dalam memperkaya pekerjaan adalah membuat hubungan langsung dengan klien atau pelanggan - Umpan balik yang cepat dan khusus haruslah dimasukkan kedalam sistem yang cocok. - Pekerjaan individual dapat diperkaya melalui muatan kerja vertikal, yang meningkatkan tanggung jawab individual pada perencanaan, pelaksanaan, dan pengendalian pekerjaan. Penjelasan yang serupa dapat dibuat untuk meningkatkan desain pekerjaan bagi tim kerja. Pekerjaan harus dirancang sehingga kelompok memiliki tugas yang lengkap untuk dilaksanakan. Akhirnya balas jasa dapat dilaksanakan sesuai dengan kinerja kelompok secara keseluruhan, yang cenderung memyebabkan kerjasama diantara anggota tim. Desain pekerjaan yang efektif merupakan proses memadukan pekerjaan dengan tujuan organisasional, memaksimalkan motivasi karyawan,mencapai standar kinerja, dan mencocokkan keahlian dan kemampuan karyawan dengan persyaratan pekerjaan semuanya merupakan pertimbangan-pertimbangan kunci. Bagan kerangka acuan untuk desain pekerjaan. Umpan balik Umpan balik Bagan diatas memaparkan arti penting desain pekerjaan bagi kalangan karyawan dan organisasi. Desain pekerjaan menentukan cara dan sejauh mana tugas-tugas diselesaikan oleh pemangku jabatan.Reaksi karyawan yang baik terhadap deain pekerjaan berarti penuntasan yang lebih besar, kepuasan kerja yang lebih tinggi,lebih sedikit ketidakhadiran, lebih jarang keluhan, dan lebih sedikit perputaran karyawan. B. Deskripsi Pekerjaan Deskripsi pekerjaan merupakan produk yang pertama dan langsung dari proses anaisis pekerjaan. Deskripsi pekerjaan adalah merupakan dokumen yang menyediakan informasi mengenai kewajiban, tugas, dan tanggung jawab pekerjaan. Deskripsi pekerjaan harus berisi pernyataan ringkas dan akurat yang menunjukkan apa yang dekerjakan karyawan, bagaimana merka mengerjakannya, dan kondisi dimana tugas dilaksanakan. Fakta tadi harus diorganisasikan dengan cara tertentu agar aplikatif. Deskripsi pekerjaan menjadi landasan bagi banyak aktivitas sumber daya manusia. Deskripsi pekerjaan memberikan standar objektif untuk pengisisan setiap pekerjaan, serta merupakan alat untuk mengisi pekerjaan tersebut melalui promosi dan pengengkatan. Tujuan deskripsi pekerjaan adalah untuk menyediakan informasi organisasional dan structural disamping informasi fungsional. C. Manfaat dan Kelemahan Deskripsi Pekerjaan 1. Manfaat Deskripsi Pekerjaan Deskripsi pekerjaan melayani berbagai tujuan bagi spesialis sumber daya manusia. Beberapa aktivitas kepegawaian dan kompensasi tergantung pada informasi pekerjaan yang ormalnya ditemulan dalam deskripsi pekerjaan. Manfaat deskripsi pekerjaan antara lain untik desain organisasi, klarifikasi tanggung jawab, rekruitmen, desain tes, wawancara orientasi, pelatihan, evaluasi pekerjaan, survey kompensasi, penempatan keluar (Simamora, 2004). - Desain Organisasi Deskripsi pekerjaan melengkapi instrumen deskriptif lainnya seperti bagab organisasi, ketetapan fungsi unit kerja dengan memberikan informasi yang lebih lengkap tentang hubungan organisasional dan keluaran. - Klarifikasi tanggung jawab Deskripsi pekerjaan membantu menghindari adanya kebingungan dan memberikan pemahaman atau penjelasan. Gambaran yang jelas atau apa yang akan menjadi tanggung jawab seseorang individu dapat mengurangi kesalahpahaman dan ambiguitas atau kemenduan. - Rekruitmen Deskripsi pekerjaan dapat pula dipakai untuk membuka iklan rekruitmen dan memberikan informasi tambahan kepada pelamar tentang lowongan kerja. Deskripsi Pekerjaan juga memfasilitasi prosedur rekruitmen. - Desain tes Orang-orang yang terlibat dalam perencangan tes yang akan dipakai untuk mengidentifikasi calon yang paling cocok dengan pekerjaan perlu memastikan bahwa mereka dapat mengaitkan unsure –unsur tes dengan persyaratak pekerjaan. - Wawancara Dalam wawancara, deskripsi pekerjaan menyediakan informasi yang ringkas dan lengkap tentang pekerjaan kepada pewawancara. - Orientasi Dengan menggunakan deskripsi pekerjaan sebagai pendahuluan untuk pekerjan akan membantu menentukan persyaratan pekerjaan dan menolong karyawan baru memahami secara lebih dalam apa yang diharapkan oleh organisasi. - Pelatihan Organisasi menggunakan deskripsi pekerjaan untuk menetapkan pelatihan yang dibutuhkan oleh kalangan karyawan untuk kinerja yang efektif dan jenis pelatihan yang dibutuhkan agar layak dipromosikan. - Evaluasi Pekerjaan Deskripsi pekerjaan sering kali menentukan faktor perbandingan dalam mengambil keputusan mengenai gaji. - Penilaian kinerja Deskripsi pekerjaan dapat menentukan landasan penilaian kinerja karyawan. Jika karyawan diberitahu tentang bidang dan tugas yang menjadi tanggung jawabnya, maka mereka diberitahu sebelumnya tentang apa yang kelak akan di evaluasi. - Survei kompensasi Deskripsi pekerjaan memberikan kesempatan kepada spesialis sumber daya manusia untuk mengestimasi apakah upah yang dibayarkan untuk sebuah pekerjaan telah adil jika dibandingkan dengan upah pekerjaan serupa di organisasi lainnya. - Penempatan keluar Deskripsi pekerjaan dapt pula memainkan peran penting dalam proses perubahan karier. Organisasi yang merumahkan karyawan secara sementara atau merampingkan strukturnya secarra permanen tetaplah ingin membantu karyawannya tersebut. Spesialis sumber daya manusia dapat memanfaatkan deskripsi pekerjaan untuk membantu penyusunan resume yang memberikan informasi lengkap. Spesialis sumber daya manusia jiga mengacu kepada deskripsi pekerjaan ketika memberikan informasi referensi kepada calon majikan karyawan yang baru. 2. Kelemahan Deskripsi pekerjaan Deskripsi pekerjaan sahih selama deskripsi itu mewakili muatan pekerjaan, lingkungan, dan kondisi kepegawaian secara akurat. Jika analisis pekerjaan tidak di mutakhirkan secara berkala, dinamika pekerjaan dapat mengubah deskripsi pekerjaan secara signifikan. Dinamikamenuntut adanya perubahan deskripsi pekerjaan sebagaimana halnya pada program pelatihan. Deskripsi pekerjaan bersifat naratif, deskripsi tertulis perihal pekerjaan yang tersusun saat ini. Dari sudut perilaku, deskripsi pekerjaan steril dari dan tidak memperhitungkan dinamika pekerjaaan. Hal ini biasanya dapat diamati pada deskripsi jabatan pada posisi eksekutif dan manajerial dimana pemegang jabatan berpengaruh besar atas aktivitas kerja mereka, yaitu pada persentase waktu yang mereka aloksikan untuk melaksanakan aktivitas lainnya serta cara mereka melakukan aktivitas tersebut. Jika Tujuan khusus dimasa depan tidak dijadikan basis pengumpulan informasi untuk analisis organisasi pekerjaan, maka deskripsi pekerjaan tidak akan lengkap. Di samping membantu proses seperti evaluasi pekerjaan yang bersifat naratif dapat menimbulkan efek boomerang, hal yang sama sekal berlawanan dengan kegunaannya. D. Teknik Desain Pekerjaan Teknik Desain Pekerjaan adalah teknik yang digunakan untuk mengubah prosedur kerja dan tergantung pada situasi yang ada, meningkatkan atu mengurangi tuntutan kerja. Teknik-teknik desain pekerjaan sangat menolong dalam menyikapi masalh moral kerja yang disebabkan oleh kebosanan atau pekerjaan yang tidak bermakna. Manakal para karyawan tidak merasa tertantang oleh pekerjaan mereka atau meyakini bahwa pekerjaan mereka tidak berarti, moral kerja cenderung merosot. Sebaliknya jika kalangan karyawan merasa tertantang oleh pekerjaan dan meyakini bahwa pekerjaan mereka bermakna, moral kerja cenderung meningkat dan tetep tinggi. Teknik desain Pekerjaan sering dipakai untuk meningkatkan moral kerja. Seperti yang terlihat pada bagan dibawah ini, bagi para manajer tersedia beraneka opsi desain pekerjaan individu dan kelompok.Rotasi pekerjaan, pemekaran pekerjaan, dan pmerkayaan pekerjaan merupakan beberapa pendekatan yang berhubungan dengan desain atau redesain tugas individu. Pendekatan untuk desain atau redesain pekerjaan atau kelompook meliputi pembentukan tim kerja, kelmpok kerja otonom, dan lingkungan mutu (Simamora, 2004). Bagan Teknik Desain Pekerjaan Teknik desain individu Teknik desain kelompok E. Faktor-faktor yang mempengaruhi Desain Pekerjaan Menurut Simamora (2004), ada 3 faktor yang mempengaruhi desain dari suatu pekerjaan, yaitu factor lingkungan, factor organisasional, dan factor keperilakuan. 1. Faktor Lingkungan Faktor lingkungan kerja ada dua hal yang perlu dipertimbangkan, yaitu sistem politis,dan ekspektasi sosial. - Sistem politis Semua organissasi dipengaruhi oleh system politis dan lingkungannya. Organisasi harus memenuhi undang-undang local,dan internasional maupun regulasi sekiranya mereka ingin tetap bertahan hidup. Kalangan manajer perlu menyadari betul bahwa pada akhirnya setiap aspek kiprah bisinis mereka akan dipengaruhi oleh pertimbangan hokum.Desain pekerjaan juga dipengaruhi oleh peraturan pemerintah. Manajemen mungkin ingin merancang sebuah pekerjaan sebuah cara yang dapat kinerja karyawannya, tetapi dalam melakukan hal itu akan melanggar undang-undang perburuhan atau standar lingkungan maupun keselamatan kerja. - Ekspektasi sosial Kemamputerimaan sebuah desain pekerjaan sebagian diakibatkan oleh ekspektasi sosial. Kultur, etika kerja dan agama semuanya membantu terbentuknya ekspektasi sosial. Contohnya adalah mengalirnya tenaga kerja kasar dari desa ke kota besar. Mereka umumnya bersedia menerima pekerjaan dengan upah rendah yang bersifat rutin, sulit secara fisik dan menuntut hari kerja yang panjang dan melelahkan. 2. Faktor Organisasional Faktor dari organisasional yang perlu dipertimbangkan meliputi biaya, otomasi, teknologi, integrasi fungsional silang, serikat pekerja, serta struktur dan filosofi. - Biaya Meskipun desain ulang pekerjaan mungkin sangat dikehendaki, biayanya mungkin menjadi kendala.Seorang manajer haruslah secara berkesinambungan menyeimbangkan manfaat desain pekerjaan dengan biayanya. - Otomasi Redesain pekerjaan melalui otomasi telah dilakukan oleh banyak perusahaan termasuk perusahaan dalam industry otomotif dan industry baja guna memotong biaya tenaga kerja - Teknologi Tipe perlengkapan dan peralatan yang digunakan, serta tata letak pekerjaan dan metode tertentu yang diaplikasikan untuk menghasilkan barang dan jasa yang cenderung menjadi kendala. Teknologi dapat membuat redesain pekerjaan menjadi sulit dan mahal, tetapi tidak mustahil. Banyak manajer yang menginginkan teknologi canggih didalam organisasi mereka. - Integrasi fungsional silang. Integrasi fungsional silang adalah tindakan pengkombinasian beberapa pekerjaan kedalam sebuah pekerjaan. Akhir-akhir ini beberapa organisasi memulai integrasi fungsional silang guna menekan biaya kerja dan meningkatkan produktivitas. - Serikat Pekerja Jika sebuah perusahaan mempunyai serikat pekerja, desain pekerjaan dapat dipengaruhi oleh filosofi, kebijakan dan strategi serikat pekerja. Biasanya kontrak antara perusahaan dan serikat pekerja menentukan dan membatasi tipe pekerjaan dan kewajiban serta tanggung jawab para pekerja. - Struktur dan filosofi Pekerjaan individu harus harmonis dengan keseluruhan struktus organisasi. 3. Faktor keperilakuan Dari faktor keperilakuan yang perlu dipertimbangkan adalah: - Bauran keahlian kumpulan tenaga kerja Sebelum mencoba program desain atau redesain pekerjaan, manajer harus menentukan apakah keahlian karyawan cocok dengan keahlian yang baru. Adakalanya pelatihan tambahan sangat diperlukan. - Perancangan pekerjaan yang sesuai dengan kebutuhan pada karyawan dan teknologi. Perancanan pekerjaan membutuhkan suatu pemeriksaan terhadap keinginan, kebutuhan dan kehendak para karyawan.Perancangan pekerjaan yang sesuai dengan teknologi sering menyita perhatian. F. Klasifikasi Pegawai Klasifikasi pegawai adalah sebagai pengkategorian pegawai, kedudukan sesuan degan jenis pegawai dan jenis kecakapan, pengetahuan dan kemampuan yang diperlukan. Terdapat dua macam klasifikasi yang biasa dipergunakan, meliputi : - Pegawai-pegawai dibagi dalam klasifikasi-klasifikasi okupasi yan umum. - Dalam setiap klasifikasi okupasi yang umum, pegawai-pegawai dibedakan menurut tingkat tanggung jawabnya. Adapun system klasifikasi yang sering dipergunakan baik oleh organisasi publik maupun organisasi swasta adalah : - Masukan informasi adalah bagaimana pegawai memperoleh informasi yang diperlukan untuk pelaksanaan kerja. - Proses-proses mental adalah pertimbangan apa yang ditekankan dalam pembuatan-pembuatan keputusan, perencanaan dan aktivitas-aktivitas prose informasi yang dilibatkan dlam pelaksanaan pegawai. - Output pegawai adalah meliputi aktiviatas-aktivitaas fisik apa yang dilakukan pegawai serta alat-alat apa yang diperlukan, - Relasi dengan orang lain, kebutuhan relasi yang diperlukan pegawai. G. Motivasi kerja karyawan Motivasi adalah proses yang menjelaskan intensitas, arah dan ketekunan seorang individu untuk mencapai tujuannya.Seseorang dikatakan mempunyai motivaasi yang tinggi dapat diartikan orang tersebut memiliki alas an yang sangat kuat untuk mencapai apa yang diinginkannya melalui pekerjaan yang ia kerjakan sekarang. Berdasarkan teori kebutuhan Abraham Maslow, teori x dan y douglas Mc Gregor motivasi adalah alas an yang mendasari sebuah perbuatan yang dilakukan seseorang. H. Kepuasan Kerja Karyawan Menurut Veithzal Rivaidan Ella Jauvani (2009) Kepuasan kerja merupakan evaluasi yang menggambarkan seseorang atas perasaan sikapnya senang atau tidak, puas atau tidak yang dapat mempengaruhi kinerja karyawan. Faktor-faktor yang mempengaruhi kepuasan kerja: - Kerja yang secara mental menantang, karyawan cenderung menyukai pekerjaan-pekerjaan yang member mereka kesempatanuntuk mrnggunakan keterampilan dan kemampuan mereka. - Ganjaran yang pantas - Kondisi kerja yang mendukung - Rekan kerja yang mendukung DAFTAR PUSTAKA Danang, Sunyoto.2012.Manajemen Sumber Daya Manusia.CAPS(Center for Academic Publishing Service):Yogyakarta

 
Diberdayakan oleh Blogger.